Jalan Prof. Dr. Hamka Air Tawar Padang 25131 Telp. Opr. (0751) 7051260, Fax 55628 E-mail unppress@unp.ac.id Home Page http://www.unp.ac.id/
Tampilkan postingan dengan label tumbuhan obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tumbuhan obat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Juni 2009
Rabu, 27 Mei 2009
Analisa dan khasiat daun salam
Sri handayani 66990 / 2005 PENDIDIKAN KIMIA NR
Universitas Negeri Padang
2.1 Botani Tumbuhan
Tanaman daun salam dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1800 m diatas permukaan laut. Pohon salam yang biasanya tumbuh liar dihutan dan pegunungan bisa mencapai ketinggian 25 meter dan lebar pohon 1,3 meter. Pohon salam juga dapat tumbuh dipekarangan – pekarangan rumah dengan keadaan tanah yang gembur.
Daun rasanya kelat dan astrigen, daun salam biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai pelengkap bumbu dapur, digunakan dalam masakan sebagai penambah aroma. Selain daun yang dipakai senagai bumbu, kulit pohonnya biasa dipakai sebagai bahan pewarna jala atau anyaman bambu. Perbanyakan tumbuhan ini bisa dilakukan dengan biji, cangkok atau stek.
Ditinjau dari kajian saintifik juga, daun salam mengandung sejenis minyak atsiri ayng dapat menegah pertumbuhan berbagai bakteri. Untuk tujuan pengobatab tradisional, bagian yang digunakan adalah daun, selain itu kulit, batang, akar, dan buah juga berkahsiat sebgai obat.
Daun salam mengandung minyak atsiri (sitral, eugenol), tanin dan flavonoid. Dengan kromatografi lapis tipis disimpulkan bahwa minyak atsiri daun salam dari seskuiterpen lakton yang mengandung fenol. Konsentrasi terkecil minyaka atsiri yang mampu menghambat pertumbuhan E. Coli adalah 40% sedangkan terhadap S. Areus sekitar 5%. Uji mikrobiologi dengan menggunakan metode cakram menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun salam dapat menghambat bakteri E. Coli, Vibrio Chaera, Salmonela sp dan ekstrak air daun salam memiliki efek hipoglikemik (menurunkan kadar gula).
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Myrtales
Familia : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium polyanthum Wigh Walp
Gambar 1. Daun Salam
Khasiat untuk obat
• Menurunkan kadar kolesterol darah yang tinggi
Cuci 10-15g daun salam segar sampai bersih, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus di malam hari. Lakukan pengobatan ini setiap hari.
• Sakit maag
Daun salam segar sebanyak 15-20 lembar dicuci bersih. Rebus dengan 1/2 liter air sampai mendidih selama 15 menit. Tambahkan gula enau secukupnya. Setelah dingin, minum airnya sebagai teh. Lakukan setiap hari sampai rasa perih dan penuh dilambung hilang.
• Diare
Cuci 15 lembar daun salam segar samapi bersih. Tambahkan 2 gelas air, lalu rebus sampai mendidih (Selama 15 menit). Selanjutnya masukkan sedikit garam. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus.
• Kencing manis
Cuci 7-15 lembar daun salam segar, lau rebus dalam 3 gelas air samapai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus sebelum makan. Lakukan sehari 2 kali.
• Khasiat lainnya : mengatasi asam urat yang tinggi, stroke, melancarkan peredaran darah,radang hidung, gatal – gatal dan mabuk alkohol.
2.2 Senyawa Metabolit Sekunder
a. Alkaloid
Alkaloid menurut Winterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa yang bersifat basa, mengandung atom nitrogen yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Alkaloid seringkali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol, jika digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tidak bewarna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal hanya sedikit yang berbentuk cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar.
Secara umum, golongan senyawa alkaloid mempunyai sigat – sifat sebagai berikut :
a. Biasanya merupakan kristal tak bewarna, tidak mudah menguap, tidak larut dalam air, larut dalam pelarut organik seperti etanol, eter dan kloroform.
b. Bersifat basa, pada umumnya beberapa pahit, bersifat racun, mempunyai efek fisiologis secara optis aktif.
c. Dapat membentuk endapan dengan larutan asam fosfowolframat, asam fosfomolibdat, asam pikrat, kalium merkuriiodida dan lain sebagainya. Dari endapan – endapan ini, banyak juga yang memiliki bentuk kristal yang khusus sehingga sangat bermanfaat dalam identifikasinya.
Senyawa alkaloid dapat diklasifikasikan dari gugus fungsi yang dikandungnya : (Rangke, 1998 : 133)
a. Alkaloid feniletamin, misalnya efedrin.
b. Alkaloid pirolidin, misalnya higrin dari koka.
c. Alkaloid piridin, misalnya asam nikotinat.
d. Alkaloid perpaduan pirolidindan piridin, misalnya nikotin.
e. Alkaloid kuinolin, misalnya kuinin.
f. Alkaloid isokuinolin, misalnya papaverin.
g. Alkaloid fenantrena, misalnya emetin.
h. Alkaloid indole yang masih dapat digolong – golongkan menjadi :
a) Alkaloid sederhana, misalnya triptamin.
b) Alkaloid ergot, misalnya serotonin.
c) Alkaloid hermala, misalnya β-karbolin.
d) Alkaloid yahimbe, misalnya reserpin.
e) Alkaloid strychnos, misalnya brusin dan strinkin.
b. Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok yang termasuk ke dalam senyawa fenol yang terbanyak dialam, senyawa-senyawa flavonoid ini bertanggung jawab terhadap zat warna ungu, merah, biru dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Berdasarkan strukturnya senyawa flavonoid merupakan turunan senyawa induk “flavon” yakni nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan lazim ditemukan, yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula.
Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas.
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi :
a) Sebagai pigmen warna
b) Fungsi patologi dan sitologi
c) Aktivitas farmakologi
Dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, menurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah dll. Gabor et al menyatakan bahwa flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam – macam bioaktivitas seperti antiinflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dll.
d) Flavonoid dalam makanan.
c. Terpenoid
Banyak tumbuhan (bunga, daun, buah, biji atau akar) yang berbau harum. Bau harum itu berasal dari senyawa yang terdiri dari 10 dan 15 karbon yang disebt terpen. Golongan senyawa ini dapat dipisahkan dari tumbuhan sumbernya melalui destilasi uap atau secara ekstraksi dan dikenal dengan nama minyak atsiri. Beberapa contoh minyak atsiri, misalnya minyak yang diperoleh dari cengkeh, bunga mawar, serai (sitronela), cukaliptus, pepermint, kamfe, sedar (tumbuhan cedrus) dan terpentin. Senyaea organik bahan alam golongan minyak atsiri sangat banyak digunakan dalam industri wangi – wangian (perfumery), makanan dan obat – obatan.
Senyawa terpen pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5 : 8 dengan rumus empiris C5H8 (unit isopren), yang bergabung secara head to tail (kepala – ekor). Terpenoid sama halnya dengan senyawa terpen tapi mengandung gugus fungsi lain seperti gugus hidroksil, aldehid dan keton. Dewasa ini terpen maupun terpenoid dikelompokkan sebagai senyawa terpenoid ( isoprena).
Berdasarkan jumlah unit isoprena yang dikandungnya, senyawa terpenoid terbagi atas :
a. Monoterpena (dua unit isoprena)
b. Seskuiterpena (tiga unit isoprena)
c. Diterpena (empat unit isoprena)
d. Triterpena (enam unit isoprena)
e. Tetraterpena (delapan unit isoprena)
Monoterpen dan seskuiterpen adalah komponen utama minyak essensial (minyak atsir) yang dapat diperoleh dengan penyulingan. Vitamin A adalah suatu diterpenoid, skualen tergolong triterpenoid yang dijumpai dalam minyak atsiri hati ikan, karoten – karoten pigmen merah dan kuning tergolong tetraterpen, lateks (karet alam ) adalah politerpen.
d. Steroid
Secara sederhana steroid dapat dioartkan sebagai kelas senyawa organik bahan alam yang kerangka strukturnya terdiri dari androstan (siklopentanofenantren), mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu.
Sebagian besar dari steroid mempunyai sifat sebagai berikut:
• Mengandung gugus fungsi oksigen (sebagai = O atau OH) pada C3
• Mengandung gugus samping pada C17
• Banyak yang mengandung ikatan rangkap C4 – C5 atau C5 – C6
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Hormon-hormon seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung man seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung telur adalah suatu steroid. Hormon jantan disebut androgen dan hormon betina estrogen, dan hormon kehamilan progestin.
e. Saponin
Saponin merupakan suatu senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon), saponin ini terdiri dari dua kelompok : saponin triterpenoid dan saponin steroid. Saponin banyak digunakan untuk bahan pencucui kain (batik) dan sebagai shampo. Saponin dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metode ekstraksi.
Pembahasan
1. Identifikasi Alkaloid
Pada identifikasi alkaloid ini digunakan metoda Culvenor – Fitzgerald. Filtrat yang diperoleh dengan cara marajang halus dan menggerus sampel dalam lumpang kemudian ditambahkan amoniak – kloroform 0,05 N, larutan H2SO4 diuji dengan beberapa pereaksi (Mayer, Wagner dan Dragendorf). Berdasakan data yang diperoleh, diketahui bahwa daun salam tidak mengandung alkaloid. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terbentuknya endapan putih keruh dengan pereaksi Mayer atau endapan coklat dengan pereaksi Wagner dan endapan orange dengan pereaksi Dragendor. Hal ini sesuai dengan literatur yang ada.
2. Identifikasi Flavonoid
Pada identifikasi flavonoid, sampel juga dirajang halus kemudian di ekstrak dengan metanol dan dipanaskan selama 5 menit. Ketika pada penambahan berikutnya yaitu penambahan beberapa tetes asam klorida dan sedikit serbuk Mg. Pada tabung reaksi yang dipanaskan terlihat perubahan warna menjadi merah, akibat dari sampel yang telah dirajang halus bewarna hijau ditambah metanol yang larutannya bening dan dingin. Keduanya bereaksi dalam tabung reaksi yang dipanaskan beberapa menit, reaksi keduanya terbentuklah perubahan earna menjadi merah. Flavonoid mempunyai banyak fungsi seperti : sebagai pigmen warna, fungsi fisiologi dan patologi, fungsi farmakologi dan flavonoid dalam makanan, antiflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dll.
3. Identifikasi steroid/terpenoid
Pada identifikasi steroid, lapisan kloroform yang diperoleh pada uji alkaloid ditempatkan pada plat tetes dan dikeringkan. Kemudian ditambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Pada percobaan diperoleh warna biru pada plat tetes. Untuk melihat warna biru pada plat tetes membutuhkan waktu pengeringan yang cukup lama, terbentuknya warnapun akan lama. Pembentukkan warna biru dapat diamati pada bagian pinggir lingkaran bagian plat tetesnya. Saat benar – benar kering baru ditambah H2SO4 barulah tampak warna birunya. Hasil ini menunjukkan bahwa daun salam mengandung steroid dan menunjukkan bahwa daun salam tidak mengandung terpenoid.
4. Identifikasi Saponin
Pada identifikasi saponin, dilakukan dengan menggunakan sampel yang telah dikeringkan untuk kemudian dihaluskan. Lalu ditambahkan dengan air suling dan dididihkan selama 2 – 3 menit. Lalu didinginkan, setelah dingin di kocok kuat – kuat. Pada pengocokkan yang dilakukan terbentuk busa. Namun busa yang terbentuk tidak permanen, karena busa tersebut cepat hilang. Adanya busa yang tidak permanen tersebut menunjukkan bahwa daun salam tidak mengandung saponin.
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa daun salam mengandung berbagai senyawa – senyawa kimia bermanfaat seperti flavonoid dan steroid.
Senyawa – senyawa yang dikandung daun salam ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Penggunaan daun salam dalam bidang kesehatan adalah untuk pengobatan, kolesterol tinggi, kening manis, tekanan darah tinggi, radang lambung, maag, diare dll.
Senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun salam adalah flavonoid dan steroid, hal ini dapat dibuktikan dengan tes positif saat melakukan percobaan.
5.2 Saran
Untuk paper ini disarankan dalam pengidentifikasikan senyawa – senyawa dalam daun salam bila harus menggunakan tanaman yang segar, diharapkan diambil beberapa saat sebelum pengidentifikasian. Tidak dibiarkan selama berjam – jam karena bisa saja senyawa yang sebenarnya ada dalam tanaman tidak teridentifikasi karena senyawanya sudah rusak. Namun selain itu, praktikan juga harus teliti dalam mengidentifikasi senyawa organik senyawa organik bahan alam.
Fessenden, Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
L. Tobing, M.Sc., Rangke. 1989. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Depdikbud.
Muhlisah, Ir. Fauziah. 1996. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya.
Tim Kimia Organik. 2007. Penuntun Pratikum Kimia Organik 2. Padang: FMIPA UNP.
Universitas Negeri Padang
2.1 Botani Tumbuhan
Tanaman daun salam dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1800 m diatas permukaan laut. Pohon salam yang biasanya tumbuh liar dihutan dan pegunungan bisa mencapai ketinggian 25 meter dan lebar pohon 1,3 meter. Pohon salam juga dapat tumbuh dipekarangan – pekarangan rumah dengan keadaan tanah yang gembur.
Daun rasanya kelat dan astrigen, daun salam biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai pelengkap bumbu dapur, digunakan dalam masakan sebagai penambah aroma. Selain daun yang dipakai senagai bumbu, kulit pohonnya biasa dipakai sebagai bahan pewarna jala atau anyaman bambu. Perbanyakan tumbuhan ini bisa dilakukan dengan biji, cangkok atau stek.
Ditinjau dari kajian saintifik juga, daun salam mengandung sejenis minyak atsiri ayng dapat menegah pertumbuhan berbagai bakteri. Untuk tujuan pengobatab tradisional, bagian yang digunakan adalah daun, selain itu kulit, batang, akar, dan buah juga berkahsiat sebgai obat.
Daun salam mengandung minyak atsiri (sitral, eugenol), tanin dan flavonoid. Dengan kromatografi lapis tipis disimpulkan bahwa minyak atsiri daun salam dari seskuiterpen lakton yang mengandung fenol. Konsentrasi terkecil minyaka atsiri yang mampu menghambat pertumbuhan E. Coli adalah 40% sedangkan terhadap S. Areus sekitar 5%. Uji mikrobiologi dengan menggunakan metode cakram menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun salam dapat menghambat bakteri E. Coli, Vibrio Chaera, Salmonela sp dan ekstrak air daun salam memiliki efek hipoglikemik (menurunkan kadar gula).
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Myrtales
Familia : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium polyanthum Wigh Walp
Gambar 1. Daun Salam
Khasiat untuk obat
• Menurunkan kadar kolesterol darah yang tinggi
Cuci 10-15g daun salam segar sampai bersih, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus di malam hari. Lakukan pengobatan ini setiap hari.
• Sakit maag
Daun salam segar sebanyak 15-20 lembar dicuci bersih. Rebus dengan 1/2 liter air sampai mendidih selama 15 menit. Tambahkan gula enau secukupnya. Setelah dingin, minum airnya sebagai teh. Lakukan setiap hari sampai rasa perih dan penuh dilambung hilang.
• Diare
Cuci 15 lembar daun salam segar samapi bersih. Tambahkan 2 gelas air, lalu rebus sampai mendidih (Selama 15 menit). Selanjutnya masukkan sedikit garam. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus.
• Kencing manis
Cuci 7-15 lembar daun salam segar, lau rebus dalam 3 gelas air samapai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus sebelum makan. Lakukan sehari 2 kali.
• Khasiat lainnya : mengatasi asam urat yang tinggi, stroke, melancarkan peredaran darah,radang hidung, gatal – gatal dan mabuk alkohol.
2.2 Senyawa Metabolit Sekunder
a. Alkaloid
Alkaloid menurut Winterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa yang bersifat basa, mengandung atom nitrogen yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Alkaloid seringkali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol, jika digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tidak bewarna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal hanya sedikit yang berbentuk cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar.
Secara umum, golongan senyawa alkaloid mempunyai sigat – sifat sebagai berikut :
a. Biasanya merupakan kristal tak bewarna, tidak mudah menguap, tidak larut dalam air, larut dalam pelarut organik seperti etanol, eter dan kloroform.
b. Bersifat basa, pada umumnya beberapa pahit, bersifat racun, mempunyai efek fisiologis secara optis aktif.
c. Dapat membentuk endapan dengan larutan asam fosfowolframat, asam fosfomolibdat, asam pikrat, kalium merkuriiodida dan lain sebagainya. Dari endapan – endapan ini, banyak juga yang memiliki bentuk kristal yang khusus sehingga sangat bermanfaat dalam identifikasinya.
Senyawa alkaloid dapat diklasifikasikan dari gugus fungsi yang dikandungnya : (Rangke, 1998 : 133)
a. Alkaloid feniletamin, misalnya efedrin.
b. Alkaloid pirolidin, misalnya higrin dari koka.
c. Alkaloid piridin, misalnya asam nikotinat.
d. Alkaloid perpaduan pirolidindan piridin, misalnya nikotin.
e. Alkaloid kuinolin, misalnya kuinin.
f. Alkaloid isokuinolin, misalnya papaverin.
g. Alkaloid fenantrena, misalnya emetin.
h. Alkaloid indole yang masih dapat digolong – golongkan menjadi :
a) Alkaloid sederhana, misalnya triptamin.
b) Alkaloid ergot, misalnya serotonin.
c) Alkaloid hermala, misalnya β-karbolin.
d) Alkaloid yahimbe, misalnya reserpin.
e) Alkaloid strychnos, misalnya brusin dan strinkin.
b. Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok yang termasuk ke dalam senyawa fenol yang terbanyak dialam, senyawa-senyawa flavonoid ini bertanggung jawab terhadap zat warna ungu, merah, biru dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Berdasarkan strukturnya senyawa flavonoid merupakan turunan senyawa induk “flavon” yakni nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan lazim ditemukan, yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula.
Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas.
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi :
a) Sebagai pigmen warna
b) Fungsi patologi dan sitologi
c) Aktivitas farmakologi
Dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, menurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah dll. Gabor et al menyatakan bahwa flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam – macam bioaktivitas seperti antiinflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dll.
d) Flavonoid dalam makanan.
c. Terpenoid
Banyak tumbuhan (bunga, daun, buah, biji atau akar) yang berbau harum. Bau harum itu berasal dari senyawa yang terdiri dari 10 dan 15 karbon yang disebt terpen. Golongan senyawa ini dapat dipisahkan dari tumbuhan sumbernya melalui destilasi uap atau secara ekstraksi dan dikenal dengan nama minyak atsiri. Beberapa contoh minyak atsiri, misalnya minyak yang diperoleh dari cengkeh, bunga mawar, serai (sitronela), cukaliptus, pepermint, kamfe, sedar (tumbuhan cedrus) dan terpentin. Senyaea organik bahan alam golongan minyak atsiri sangat banyak digunakan dalam industri wangi – wangian (perfumery), makanan dan obat – obatan.
Senyawa terpen pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5 : 8 dengan rumus empiris C5H8 (unit isopren), yang bergabung secara head to tail (kepala – ekor). Terpenoid sama halnya dengan senyawa terpen tapi mengandung gugus fungsi lain seperti gugus hidroksil, aldehid dan keton. Dewasa ini terpen maupun terpenoid dikelompokkan sebagai senyawa terpenoid ( isoprena).
Berdasarkan jumlah unit isoprena yang dikandungnya, senyawa terpenoid terbagi atas :
a. Monoterpena (dua unit isoprena)
b. Seskuiterpena (tiga unit isoprena)
c. Diterpena (empat unit isoprena)
d. Triterpena (enam unit isoprena)
e. Tetraterpena (delapan unit isoprena)
Monoterpen dan seskuiterpen adalah komponen utama minyak essensial (minyak atsir) yang dapat diperoleh dengan penyulingan. Vitamin A adalah suatu diterpenoid, skualen tergolong triterpenoid yang dijumpai dalam minyak atsiri hati ikan, karoten – karoten pigmen merah dan kuning tergolong tetraterpen, lateks (karet alam ) adalah politerpen.
d. Steroid
Secara sederhana steroid dapat dioartkan sebagai kelas senyawa organik bahan alam yang kerangka strukturnya terdiri dari androstan (siklopentanofenantren), mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu.
Sebagian besar dari steroid mempunyai sifat sebagai berikut:
• Mengandung gugus fungsi oksigen (sebagai = O atau OH) pada C3
• Mengandung gugus samping pada C17
• Banyak yang mengandung ikatan rangkap C4 – C5 atau C5 – C6
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Hormon-hormon seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung man seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung telur adalah suatu steroid. Hormon jantan disebut androgen dan hormon betina estrogen, dan hormon kehamilan progestin.
e. Saponin
Saponin merupakan suatu senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon), saponin ini terdiri dari dua kelompok : saponin triterpenoid dan saponin steroid. Saponin banyak digunakan untuk bahan pencucui kain (batik) dan sebagai shampo. Saponin dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metode ekstraksi.
Pembahasan
1. Identifikasi Alkaloid
Pada identifikasi alkaloid ini digunakan metoda Culvenor – Fitzgerald. Filtrat yang diperoleh dengan cara marajang halus dan menggerus sampel dalam lumpang kemudian ditambahkan amoniak – kloroform 0,05 N, larutan H2SO4 diuji dengan beberapa pereaksi (Mayer, Wagner dan Dragendorf). Berdasakan data yang diperoleh, diketahui bahwa daun salam tidak mengandung alkaloid. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terbentuknya endapan putih keruh dengan pereaksi Mayer atau endapan coklat dengan pereaksi Wagner dan endapan orange dengan pereaksi Dragendor. Hal ini sesuai dengan literatur yang ada.
2. Identifikasi Flavonoid
Pada identifikasi flavonoid, sampel juga dirajang halus kemudian di ekstrak dengan metanol dan dipanaskan selama 5 menit. Ketika pada penambahan berikutnya yaitu penambahan beberapa tetes asam klorida dan sedikit serbuk Mg. Pada tabung reaksi yang dipanaskan terlihat perubahan warna menjadi merah, akibat dari sampel yang telah dirajang halus bewarna hijau ditambah metanol yang larutannya bening dan dingin. Keduanya bereaksi dalam tabung reaksi yang dipanaskan beberapa menit, reaksi keduanya terbentuklah perubahan earna menjadi merah. Flavonoid mempunyai banyak fungsi seperti : sebagai pigmen warna, fungsi fisiologi dan patologi, fungsi farmakologi dan flavonoid dalam makanan, antiflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dll.
3. Identifikasi steroid/terpenoid
Pada identifikasi steroid, lapisan kloroform yang diperoleh pada uji alkaloid ditempatkan pada plat tetes dan dikeringkan. Kemudian ditambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Pada percobaan diperoleh warna biru pada plat tetes. Untuk melihat warna biru pada plat tetes membutuhkan waktu pengeringan yang cukup lama, terbentuknya warnapun akan lama. Pembentukkan warna biru dapat diamati pada bagian pinggir lingkaran bagian plat tetesnya. Saat benar – benar kering baru ditambah H2SO4 barulah tampak warna birunya. Hasil ini menunjukkan bahwa daun salam mengandung steroid dan menunjukkan bahwa daun salam tidak mengandung terpenoid.
4. Identifikasi Saponin
Pada identifikasi saponin, dilakukan dengan menggunakan sampel yang telah dikeringkan untuk kemudian dihaluskan. Lalu ditambahkan dengan air suling dan dididihkan selama 2 – 3 menit. Lalu didinginkan, setelah dingin di kocok kuat – kuat. Pada pengocokkan yang dilakukan terbentuk busa. Namun busa yang terbentuk tidak permanen, karena busa tersebut cepat hilang. Adanya busa yang tidak permanen tersebut menunjukkan bahwa daun salam tidak mengandung saponin.
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa daun salam mengandung berbagai senyawa – senyawa kimia bermanfaat seperti flavonoid dan steroid.
Senyawa – senyawa yang dikandung daun salam ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Penggunaan daun salam dalam bidang kesehatan adalah untuk pengobatan, kolesterol tinggi, kening manis, tekanan darah tinggi, radang lambung, maag, diare dll.
Senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun salam adalah flavonoid dan steroid, hal ini dapat dibuktikan dengan tes positif saat melakukan percobaan.
5.2 Saran
Untuk paper ini disarankan dalam pengidentifikasikan senyawa – senyawa dalam daun salam bila harus menggunakan tanaman yang segar, diharapkan diambil beberapa saat sebelum pengidentifikasian. Tidak dibiarkan selama berjam – jam karena bisa saja senyawa yang sebenarnya ada dalam tanaman tidak teridentifikasi karena senyawanya sudah rusak. Namun selain itu, praktikan juga harus teliti dalam mengidentifikasi senyawa organik senyawa organik bahan alam.
Fessenden, Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
L. Tobing, M.Sc., Rangke. 1989. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Depdikbud.
Muhlisah, Ir. Fauziah. 1996. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya.
Tim Kimia Organik. 2007. Penuntun Pratikum Kimia Organik 2. Padang: FMIPA UNP.
Rabu, 04 Maret 2009
Selasa, 17 Februari 2009
Jumat, 30 Januari 2009
Rabu, 03 Desember 2008
Blustru


BLUSTRU ALIAS PITULO LICIN
SEBAGAI OBAT MIGRAIN, CACINGAN, GANGGUAN HAID, DAN SIPILIS
Oleh Tarmizi, B.Sc, S.Pd Mahasiswa S2 TP-MIPA UNP
Haid tidak lancar? Ambil saja buah blustru sebesar 4 jari, lalu cuci dan parut. Peras dan tambahkan 1/2 cangkir air masak dan seujung sendok teh, garam halus Setelah disaring minum sekaligus 3 x sehari.
Ramuan seperti itu banyak dimanfaatkan kaum wanita yang bermasalah dengan haid (amenore). Sebab,buah blustru bersifat sejuk dan berefek emenagog (peluruh haid). Masyarakat pedesaan juga mengkonsurnsi Luffa cylindrica untuk memperlancar ASI. Anggota famili Cucurbitaceae itu memiliki efek laktagoga.
Blustru dengan nama ilmiah Luffa aegyptyca Mill termasuk tanaman dalam familia Cucurbitaceae (labu-labuan). Selain disebut blustru, tanaman ini juga dikenal dengan sebutan ketola, bestru, pitulo, petalo panjang. Nama asingnya adalah towel ground, vegetable sponge, ofluffa (Hembing, 1994).
Sinonim nama ilmiah blustru menurut buku Tanaman Obat Indonesia (1985) adalah Luffa cylindrical (L) Roem. Dan Luffa pentandra Roxb. Jadi ada tiga nama ilmiah dari blustru yang diberikan oleh empat orang pakar taksonomi tumbuhan.
Di sumatera blustru disebut blustru, hrung jawa, ketola, pitulo licin, dan timput. Orang di Jawa menyebutnya blustru, lopang, oyong, bestru, blestru. Di Maluku dikenal sebagai dodahala.
Sosok tanaman
Blustru banyak ditanam di ladang, pada pagar halam sebagai tanaman sayur atau tumbuhan liar di semak, tepi sungai dan tepi pantai laut. Batangnya dapat mecpai panjang 2-10 meter, memanjat dengan sulur-sulur yang keluar dari ketiak daun.
Daunnya tunggal, bertangkai, bulat telur melebar, berlekuk menjari 5-7, pangkal berbentuk jantung, tulang daun menonjol di bawah. Panjang daun 8-25 cm. lebar 15-25 cm, warna hijau tua, permukaan bawah warnanya lebih muda
Bunga blustru bewarna kuning, buanya tergantung di batang atau tergetak di atas tanah. Bentuknya bulat memanjang, silindris, panjang 10-50 cm, dengan garis tengah 5-10 cm. Buah yang masih muda bewarna hijau dan bila sudah tua bewarna coklat. Pada bagian dalam dari buah yang sudah masak terdapat anyaman sabut yang rapat dan biasa dipakai untuk mencuci piring. Buah muda dapat disayur, daun muda dibuat gulai atau botok (Kamus Obat Tradisonal, 1994).
Dimanfaatkan juga di luar negeri
Blustru memang tak hanya. sekedar sayuran. Tanaman bemama dagang sponge gourd itu sudah lama berfungsi obat. Di India dan Suriname misalnya, daging buahnya dimanfaatkan sebagai penurun panas, pembersih darah, pencahar, obat batuk, tonik, hingga obat cacing. Ia juga dipakai sebagai obat haid, wasir, bronkhitis, tumor, dan sipilis. Di Indonesia blustru dipakai untuk menghentikan perdarahan dan membersihkan darah dan racun dan kotoran.
Di Suriname daun blustru sebagai penurun panas. Bijinya obat pencahar; jus buah obat wasir. Masyarakat pedesaan di Indonesia pun menggunakan hampir semua bagian tanaman sebagai obat. Bubuk biji yang disangrai sampai hangus mengatasi sakit pinggang. Caranya, 10 gram bubuk biji dimasukkan ke dalam 1/2 seloki arak lalu diaduk rata. Setelah mengendap diminum sekaligus, ampas ditempelkan di pinggang yang sakit.
Bagian yang dipakai
Bagian yang dipakai untuk pengobatan adalah seluruh bagian tanaman dari buah, kulit buah, tangkai buah, biji, sabut, daun, bunga, batang dan akar blustru.
Khasiatnya
Daun sebagai obat luar mengobati luka gigitan ular. Ia berkhasiat peluruh kencing, perangsang muntah, pencahar, pemberantas cacing perut, pembersih darah, peluruh haid, dan juga merangsang produksi ASI. Bunga berkhasiat mengatasi batuk, sakit tenggorokan, sinusitis, wasir, dan bisul. Batang rasanya pahit, dingin, beracun, dan masuk ke meridian jantung , limpa, dan ginjal. Ia melancarkan sirkulasi darah( melancarkan peredaran darah), dan obat kencing. Daun berkhasiat pembunuh cacing perut. Sedangkan sabut, rasanya manis, dan bersifat netral. Afinitasnya ke meridian paru, lambung, dan hati. Bagian ini ampuh menghilangkan nyeri, mengencerkan dahak, antirematik, melancarkan peredaran darah, menghilangkan bengkak, serta melancarkan sirkulasi darah dan saraf. Akar berkhasiat melancarkan sirkulasi darah dan menghilangkan bengkak. Buah berkhasiat membersihkan panas dan racun, peluruh dahak. Biji berkhasiat sebagai peluruh kencing, menghilangka panas.
Kandungan kimianya
Simplisia daun blustru disebut Luffae folim. Kandungan zat berkhasiatnya antara lain xilosa, manosa, galaktan, saponin, zat pahit lufeina, vitamin A, B dan C.
Khasiat blustru tak lepas dari kandungan kimiawi seperti zat aktif saponin triterpen, luffein, citrulline, dan cucurbitacin. Getah mengandung saponin, lendir, lemak, protein, xylan, vitamin B, dan vitamin C. Biji mengandung leak, squalene, (x spinasterol, cucurbitasin B, dan protein.
Bunga blustru mengandung glutamin, asam aspartat, arginin, lisin, dan alanin. Sabut mengandung xylan, xylose, mannosan, galaktan, saponin, selulosa, galaktosa, manitosa, serta vitamin A, B, dan C. Sedangkan daun dan batang menganclung saponin dan tanin.
Blustrujuga mengandung 25,88% asam glutamat, 6,5 1 % glisin. Asam amino, polisakarida, dan protein yang dikandungnya memiliki aktivitas antitumor. Senyawa-senyawa itu terbukti mampu mengharnbat pertumbuhan dan menurunkanjumlah sel-sel tumor.
Kegunaan
Buah untuk melancarkan ASI, keputihan (Hembing). Obat luka, pelancar ASI, peluruh air seni, peluruh dahak/obat batuk, pencahar Biji untuk untuk batu saluran kencing, wasir. Daun untuk untuk bisul, kurap, luka baker, peluruh haid Akar untuk migraine, sakit pinggang (Depkes RI)
Kontrasepsi alaml
Meski berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit, blustru dilarang dikonsumsi penderita limpa lemah. Sebab sifat dingin blustru menghambat bahkan menghentikan kerja limpa. Ibu hamil juga dilarang minum rebusan herba itu. Sebab, penelitian pada marmut yang dilakukan Astuti dari Fakultas Farmasi Universitas Widya Mandala Surabaya pada 1989 membuktikan, ekstrak daun blustru meningkatkan kontraksi rahim marmut.
Zat aktif saponin triterpen yang ditemukan di seluruh bagian tanaman blustru berefek spermatisidal (membunuh sperma). Hesti Sila Rahayu dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga membuktikannya. Penelitian in vitro membuktikan, perasan, infus, dan ekstrak etanol buah blustru. menghambat motilitas dan viabilitas spermatozoa manusia normal. Sedangkan Hari Dwi Mulyani dari institusi yang sama menemukan, pernberian isolat biji blustru berpengaruh dalam proses terhambatnya pembentukan sperma mencit. (dr. Setiawan Dalimartha, staf Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional DKI Jakarta)
Obat migrain
Akar segar dari blustru 150 gram ditambah telur itik 2 butir lalu digodok, airnya diminum, telurnya dimakan.
memperlancar ASI.
Caranya, buah blustru dimasak bersama daun katuk menjadi sayur bening dan dikonsumsi tiap hari. (Tarmizi, B.Sc, S.Pd/ Universitas Negeri Padang)
Referensi; Tanaman Obat Indonesia, Depkes RI, 1985; Trubus, Juli 2002,h 63; Penyembuhan dengan Tanaman Obat, Komputindo, Jkt, 2003.
Kamis, 20 November 2008
Analisa zat Berkhasiat Beluntas
Ansyari Ferdian Kimia UNP 48453
Latar Belakang
Seirama dengan pesatnya kemajuan Ilmu Pengetahuan, para ahli obat obatan telah mengangkat pengobatan tradisional ke fonem ilmiah, sehingga cukup banyak tumbuhan berkhasiat obat dari lingkungan kita yang dapat diolah menjadi obat mujarab, contohnya daun pegagan atau tapak kuda, setelah diolah oleh ahli farmasi dengan nama garukda.Tumbuhan ini dikenal luas dalam dunia kedokteran sebagai obat efektif untuk mencegah kepikunan. Selain tumbuhan tersebut, masih banyak tumbuhan lain yang dapat dimanfaatkan bagi kesehatan.
Penggunaan tumbuhan sebagai obat, sangat berkaitan dengan kandungan Kimia yang terdapat dalam tumbuh tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tanpa adanya senyawa bioaktif dalam tumbuhan, secara umum tumbuhan itu tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam tumbuhan biasanya merupakan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponin dll.
Diketahui beberapa literatur bahwa daun beluntas dapat digunakan sebagai obat, salah satunya dapat menghilangkan bau badan, menurunkan panas, dll.Apakah daun beluntas ini dapat digunakan sebagai obat, maka perlu diidentifikasi kandungan metabolidnya
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalah percobaan ini adalah ‘Bagaimanakah cara mengekstraksi suatu senyawa bahan alam dari tumbuhan beluntas ?’
Batasan Masalah
Pada makalah ini hal yang akan dibahas : pengertian dan tes uji alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponin yang terdapat pada daun beluntas.
Tujuan Percobaan
Praktikum ini dilakukan untuk menguji dan menentukan kandungan metabolid sekunder dari daun beluntas.
Manfaat Penulisan
Setelah dapat melakukan uji kandungan metabolit sekunder dari daun beluntas, diharapkan dapat dilakukan ekstraksi serta isolasi kandungan tersebut agar dapat dipergunakan untuk analisis selanjutnya serta dapat dijadikan bahan kajian bagi penelitian selanjutnya, sehingga dapat dikembangkan untuk dapat dipergunakan untuk tujuan farmakologis dan industri.
TINJAUAN PUSTAKA
A.Alkaloid
Merupakan senyawa organik bahan alam yang terbesar jumlahnya, baik dari segi jumlahnya maupun sebarannya. Alkaloid menurut Winterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa senyawa yang bersifat basa, mengandung atom nitrogen berasal dari tumbuan dan hewan. Harborne dan Turner (1984) mengungkapkan bahwa tidak satupun definisi alkaloid yang memuaskan, tetapi umumnya alkaloid adalah senyawa metabolid sekunder yang bersifat basa, yan mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam cincin heterosiklik, dan bersifat aktif biologis menonjol.
Struktur alkaloid beraneka ragam, dari yang sederhana sampai rumit, dari efek biologisnya yang menyegarkan tubuh sampai toksik.Satu contoh yang sederhana adalah nikotina. Nikotin dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, kanker mulut, tekanan darah tinggi, dan gangguan terhadap kehamilan dan janin.
B.Flavonoid
Adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam. Senyawa-senyawa ini bertanggung jawab terhadap zat warna merah, ungu, biru, dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “ flavon “ yakni nama sejenis flavonoid yang terbesr jumlahnya dan juga lazim ditemukan, yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan Primula.
Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas. Misalnya antosianin dalam mahkota bunga yang berwarna merah, hampir selalu disertai oleh flavon atau flavonol yan tak berwarna. Dewasa ini diperkirakan telah berhasil diisolasi sekitar 3.000 senyawa flavonoid.
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi : 1) Sebagai pigmen warna, 2) Fungsi fisiologi dan patologi, 3) Aktivitas Farmakologi, dan 4) Flavonoid dalam makanan. Aktifitas Farmakologi dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, menurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah, dll.Gabor menyatakan bahwa flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam macam bioakitfitas seperti antiinflamasi, anti kanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretic, dll.
C.Senyawa Terpen
Pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5:8 dengan rumus empiris C5 H8(unit isoprene), yang bergabung secara head to tail (kepala-ekor). Oleh sebab itu senyawa terpen lazim disebut isoprenoid.Terpenoid sama halnya dengan senyawa terpen tetapi mengandung gugus fungsi lain seperti gugus hidroksil, aldehid dan keton. Dewasa ini baik terpen maupun terponoid dikelompokkan sebagai senyawa terpenoid (isoprenoid)
Contoh: Limoena dalam buah jeruk, Geraniol dalam mawar
Berdasarkan jumlah unit isoprene yang dikandungnya, senyawa terpenoid dibagi atas: 1)monoterpen (dua unit isoprene), 2)seskiterpen (tiga unit isoprene), 3)diterpena (empat unit isoprene), 4 Triterpena (enam unit isoprene), 5 Tetraterpena (delapan unit isoprene), dan 6) politerpena (banyak unit isoprene).Monoterpen dan seskiterpen adalah komponen utama minyak esensial (minyak atsiri) yang dapat diperoleh dengan penyulingan. Vitamin A adalah suatu diterpenopoid, skualen tergolong triterpenoid yang dijumpai dalam minyak hati ikan, karoten karoten pigmen merah dan kuning tergolong tetraterpen, lateks (karet alam) adalah politerpen.
D.Steroid
Adalah suatu kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar siklopentanaperhidrofenantrena, mempunyai empat cincin terpadu.Senyawa senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu.
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Hormon hormon seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung telur adalah suatu steroid. Hormon jantan disebut androgen dan hormon betina estrogen, dan hormon kehamilan progestin.
E.Saponin
Merupakan senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon). Saponin ini terdirin dari dua kelompok : Saponintriterpenoid dan saponin steroid. Saponin banyak digunakan dalam kehidupan manusia, salah satunya terdapat dalam perak yang dapat digunakan untuk bahan pencuci kain (batik) dan sebagai shampoo.Saponin dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metoda ekstraksi.
F.Beluntas (Puchea Indica [L] Less)
(Gambar. Tanaman Beluntas)
Nama:
a)Suku: Asteraceae (Compositae)
b)Sinonim: Baccharis indica L
c)Nama Daerah
Sumatra: beluntas (Melayu). Jawa: baluntas, baruntas (Sunda), luntas (Jawa),baluntas (Madura). Sulawesi: lamutasa (Makasar). Nusa Tenggara: lenabou (Timor).
d) Nama Simplisia
Lucheae Folium (daun beluntas), Plucheae Radix (akar beluntas).
Habitus : perdu kecil, tumbuh tegak, tinggi bisa mencapai 2 m.
Batang : berambut halus.
Daun : bulat telur, hijau muda, panjang 2 - 9 cm, ujung lancip, Bunga : majemuk, bentuk malai, keluar dari ketiak daun.
Buah : kecil, keras, warna coklat, biji coklat keputih-putihan.
Klasifikasi Biologi Tumbuhan
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas : Asteridae
Ordo : Asterales
Familia : Asteraceae
Genus : Pluchea
Spesies : Pluchea indica (L.) Less.
G. Uraian Tumbuhan Beluntas
Beluntas umumnya tumbuh liar di daerah kering pada tanah yang keras dan berbatu, atau ditanam sebagai tanaman pagar. Tumbuhan ini memerlukan cukup cahaya matahari atau sedikit naungan, banyak ditemukan di daerah pantai dekat laut sampai ketinggian 1.000 m dpl.
Perdu kecil, tumbuh tegak, tinggi mencapai 2 m, kadang kadang lebih. Percabangan banyak, berusuk halus, berambut lembut.Daun bertangkai pendek, letak berseling, helaian daun bulat telur sungsang, ujung bulat melancip, tepi bergerigi, berkelenjar, panjang 2,5-9 cm, lebar 1-5,5 cm, warnanya hijau terang, bila diremas harum. Bunga majemuk bentuk malai rata, keluar dari ketiak daun dan ujung tangkai, cabang cabang perbungaan banyak sekali, bunga bentuk bonggol bergagang atau duduk, warnanya putih kekuningan sampai ungu. Buah longkah agak berbentuk gasing, kecil, keras, coklat dengan sudut sudut putih, lokos. Biji kecil, coklat keputih putihan. Perbanyakan dengan stek batang yang cukup tua.
1.Sifat dan Khasiat
Daun beluntas berbau khas aromatis dan rasanya etir. Berkhasiat untuk menigkatkan nafsu makan (stomakik), membantu pencernaan, peluruh keringat (diaforetik), pereda demam (antipiretik), dan penyegar.
Akar beluntas berkhasiat sebagai peluruh keringat dan penyejuk (demulcent)
2. Kandungan Kimia
Daun beluntas mengandung alkaloid, flavonoida,tannin, minyak atsiri, asam chlorogenik, natrium, kalium, aluminium, kalsium, magnesiaum, dan fosfor. Sedangkan akarnya mengandung flavonoid dan tannin.
3. Bagian Yang Digunakan
Daun dan akar. Penggunaan segar atau yang telah dikeringkan.
4. Indikasi
Beluntas ini dapat digunakan untuk ; Menghilangkan bau badan, bau mulut, Kurang nafsu makan, Gangguan pencernaan pada anak, TBC kelenjar (skrofuloderma), Nyeri pada rematik, nyeri tulang (osteodinia), sakit pinggang (lumbago), Demam, Datang haid tidak teratur, Keputihan.
5. Cara Pemakaian
Daun atau akar sebanyak 10-15 gr direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, daun dilumatkan lalu dibalutkan untuk pegal linu, luka, scabies, kudis, dan borok.
6. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
1.Uji fertilitas daun beluntas baik berupa perasan, infuse, maserat, dan ekstrak dengan alat soxhlet pda mencit betina yang diberikan secara oral, mempunyai pengaruh antifertilitas pada mencit betina (Willys,Jurusan Farmasi FMIPA, UNHAS, 1990)
2.Kadar minyak atsiri daun beluntas 5% v/v dapat menghambat pertumbuhan Eschericia coli (Atik Herawati, Fak Farmasi, UGM, 1992).
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu pelaksanaan
Percobaan ini dilaksanakan tanggal 20 November 2007 s/d 25 November 2007.
B.Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan adalah daun tumbuhan beluntas (Puchea Indica [L] Less).
C.Alat dan Bahan Alat
•Lumpang •Pisau / gunting •plat tetes •tabung reaksi •pipet tetes •corong
•pemanas •pasir halus bersih •kapas Bahan
•Contoh ( simplisia tumbuhan : daun, akar, batang, kulit batang, bunga, buah, biji)
•Amoniak-kloroform 0.05 N ( 1 ml amoniak dalam 250 ml kloroform )
•H2SO4 2 N •Pereaksi Mayer, Pereaksi Wagner, Pereaksi Dragendorf.
•Metanol •Asam sulfat pekat •Serbuk magnesium
D. Prosedur Kerja
a.Identifikasi Alkaloid : Metoda Culvenor-Fiztgerald
Kira-kira 4 gram sampel segar dirajang halus dan digerus dalam lumpang dengan bantuan pasir, lalu ditambahkan kloroform sedikit sampai membentuk pasta.
Tambahkan 10 ml larutan amoniak-kloroform 0.05 N dan digerus lagi, saring campuran kedalam sebuah tabung reaksi kering.
Tmbahkan 10 ml H2SO4 2 N dan kocok kuat. Diamkan larutan sampai terbentuk dua lapisan.
Dengan menggunakan pipet yang telah diberi kapas pada ujungnya untuk menyaring, ambil lapisan asam sulfat dan masukan kedalam tabung reaksi kecil ( Lapisan kloroform disimpan untuk pengujian terpenoid ).
Filtrat diuji dengan pereaksi Mayer, Wagner dan Dragendorf. Terbentuknya endapan putih atau keruh dengan pereaksi Mayer. Endapan coklat dengan pereaksi Wagner dan endapan orange dengan pereaksi Dragendorf menunjukan sampel mengandung alkaloid.
b.Identifikasi Flavonoid : Shinoda Test / sianidin Test
Kira-kira 0.5 mg sampel yang telah dirajang halus, diekstrak dengan 5 ml metanol dan dipanaskan selama 5 menit dalam tabung reaksi. Ekstraknya ditambahkan beberapa tetes HCl pekat dan sedikit serbuk magnesium. Bila terjadi perubahan warna merah/pink atau kuning menunjukan sampel mengandung flavonoid.
c.Identifikasi Steroid / terpenoid : Metode Lieberman-Burchard
Beberapa tetes kloroform pada uji alkaloid, ditempatkan pada plat tetes. Tambahkan anhidrida asetat 5 tets dan biarkan mengering. Kemudian ditambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Timbulnya warna merah jingga atau ungu menandakan uji positif terhadap triterpenoid, sedangkan warna biru menunjukan uji positif untuk steroid.
d.Identifikasi Saponin : Uji Busa
Uji saponin ini sebaiknya digunakan sampel yang telah dikeringkan, karena test yang digunakan adalah test pembentukan busa. Bila sampel yang basah dididihkan dengan air suling, kemungkinan cairan sel akan membentuk busa bila dikocok.
Caranya : sampel kering dirajang halus, dimasukan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan air suling, didihkan selama 2-3 menit. Dinginkan, setelah dingin dikocok dengan kuat. Adanya busa yang stabil selama 5 menit berarti sampel mengandung saponin.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.Alkaloid
Uji alkaloid pada daun beluntas tidak dapat dilakukan karena keterbatasan reagen, namun hasil yang harus didapat adalah positif, sesuai dengan literatur daun beluntas mengandung alkaloid (Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, jilid I :19)
b.Uji Flavonoid
Uji Flavoid pada daun Beluntas dengan menggunakan HCl p.a dan sedikit serbuk magnesium menimbulkan perubahan warna pink, ini berarti bahwa daun beluntas mengandung Flavonoid. Hal ini sesuai dengan pernyataan pada literatur bahwa daun beluntas mengandung Flavonoid (Atlas Tumbuhan Obat Ibndonesia, jilid 1 :19)
c.Uji Saponin
Pada uji saponin daun beluntas menunjukkan hasil negativ dimana setelah perlakuan tidak menimbulkan busa yang harusnya ada pada uji positif. Dari data ini dapat dinyatakan bahwa daun beluntas tidak mengandung merabolid sekunder (Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 1 :19)
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari percobaan Ini dapat disimpulkan bahwa :1)Daun beluntas merupakan salah satu tanaman obat.2)Daun beluntas mengandung metabolid sekunder Flavonoid.3)Daun beluntas mengandung metabolid sekunder Alkaloid.4)Daun beluntas tidak mengandung metabolid sekunder Saponin
B.Saran
Diharapkan untuk praktikum berikutnya, reagen dan alat yang dibutuhkan tersedia dengan lengkap sehingga percobaan dapat dilakukan dengan baik dan semua materi yang akan dipraktikumkan dapat dilaksanakan.
Latar Belakang
Seirama dengan pesatnya kemajuan Ilmu Pengetahuan, para ahli obat obatan telah mengangkat pengobatan tradisional ke fonem ilmiah, sehingga cukup banyak tumbuhan berkhasiat obat dari lingkungan kita yang dapat diolah menjadi obat mujarab, contohnya daun pegagan atau tapak kuda, setelah diolah oleh ahli farmasi dengan nama garukda.Tumbuhan ini dikenal luas dalam dunia kedokteran sebagai obat efektif untuk mencegah kepikunan. Selain tumbuhan tersebut, masih banyak tumbuhan lain yang dapat dimanfaatkan bagi kesehatan.
Penggunaan tumbuhan sebagai obat, sangat berkaitan dengan kandungan Kimia yang terdapat dalam tumbuh tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tanpa adanya senyawa bioaktif dalam tumbuhan, secara umum tumbuhan itu tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam tumbuhan biasanya merupakan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponin dll.
Diketahui beberapa literatur bahwa daun beluntas dapat digunakan sebagai obat, salah satunya dapat menghilangkan bau badan, menurunkan panas, dll.Apakah daun beluntas ini dapat digunakan sebagai obat, maka perlu diidentifikasi kandungan metabolidnya
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalah percobaan ini adalah ‘Bagaimanakah cara mengekstraksi suatu senyawa bahan alam dari tumbuhan beluntas ?’
Batasan Masalah
Pada makalah ini hal yang akan dibahas : pengertian dan tes uji alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponin yang terdapat pada daun beluntas.
Tujuan Percobaan
Praktikum ini dilakukan untuk menguji dan menentukan kandungan metabolid sekunder dari daun beluntas.
Manfaat Penulisan
Setelah dapat melakukan uji kandungan metabolit sekunder dari daun beluntas, diharapkan dapat dilakukan ekstraksi serta isolasi kandungan tersebut agar dapat dipergunakan untuk analisis selanjutnya serta dapat dijadikan bahan kajian bagi penelitian selanjutnya, sehingga dapat dikembangkan untuk dapat dipergunakan untuk tujuan farmakologis dan industri.
TINJAUAN PUSTAKA
A.Alkaloid
Merupakan senyawa organik bahan alam yang terbesar jumlahnya, baik dari segi jumlahnya maupun sebarannya. Alkaloid menurut Winterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa senyawa yang bersifat basa, mengandung atom nitrogen berasal dari tumbuan dan hewan. Harborne dan Turner (1984) mengungkapkan bahwa tidak satupun definisi alkaloid yang memuaskan, tetapi umumnya alkaloid adalah senyawa metabolid sekunder yang bersifat basa, yan mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam cincin heterosiklik, dan bersifat aktif biologis menonjol.
Struktur alkaloid beraneka ragam, dari yang sederhana sampai rumit, dari efek biologisnya yang menyegarkan tubuh sampai toksik.Satu contoh yang sederhana adalah nikotina. Nikotin dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, kanker mulut, tekanan darah tinggi, dan gangguan terhadap kehamilan dan janin.
B.Flavonoid
Adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam. Senyawa-senyawa ini bertanggung jawab terhadap zat warna merah, ungu, biru, dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “ flavon “ yakni nama sejenis flavonoid yang terbesr jumlahnya dan juga lazim ditemukan, yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan Primula.
Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas. Misalnya antosianin dalam mahkota bunga yang berwarna merah, hampir selalu disertai oleh flavon atau flavonol yan tak berwarna. Dewasa ini diperkirakan telah berhasil diisolasi sekitar 3.000 senyawa flavonoid.
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi : 1) Sebagai pigmen warna, 2) Fungsi fisiologi dan patologi, 3) Aktivitas Farmakologi, dan 4) Flavonoid dalam makanan. Aktifitas Farmakologi dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, menurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah, dll.Gabor menyatakan bahwa flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam macam bioakitfitas seperti antiinflamasi, anti kanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretic, dll.
C.Senyawa Terpen
Pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5:8 dengan rumus empiris C5 H8(unit isoprene), yang bergabung secara head to tail (kepala-ekor). Oleh sebab itu senyawa terpen lazim disebut isoprenoid.Terpenoid sama halnya dengan senyawa terpen tetapi mengandung gugus fungsi lain seperti gugus hidroksil, aldehid dan keton. Dewasa ini baik terpen maupun terponoid dikelompokkan sebagai senyawa terpenoid (isoprenoid)
Contoh: Limoena dalam buah jeruk, Geraniol dalam mawar
Berdasarkan jumlah unit isoprene yang dikandungnya, senyawa terpenoid dibagi atas: 1)monoterpen (dua unit isoprene), 2)seskiterpen (tiga unit isoprene), 3)diterpena (empat unit isoprene), 4 Triterpena (enam unit isoprene), 5 Tetraterpena (delapan unit isoprene), dan 6) politerpena (banyak unit isoprene).Monoterpen dan seskiterpen adalah komponen utama minyak esensial (minyak atsiri) yang dapat diperoleh dengan penyulingan. Vitamin A adalah suatu diterpenopoid, skualen tergolong triterpenoid yang dijumpai dalam minyak hati ikan, karoten karoten pigmen merah dan kuning tergolong tetraterpen, lateks (karet alam) adalah politerpen.
D.Steroid
Adalah suatu kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar siklopentanaperhidrofenantrena, mempunyai empat cincin terpadu.Senyawa senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu.
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Hormon hormon seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung telur adalah suatu steroid. Hormon jantan disebut androgen dan hormon betina estrogen, dan hormon kehamilan progestin.
E.Saponin
Merupakan senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon). Saponin ini terdirin dari dua kelompok : Saponintriterpenoid dan saponin steroid. Saponin banyak digunakan dalam kehidupan manusia, salah satunya terdapat dalam perak yang dapat digunakan untuk bahan pencuci kain (batik) dan sebagai shampoo.Saponin dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metoda ekstraksi.
F.Beluntas (Puchea Indica [L] Less)
(Gambar. Tanaman Beluntas)
Nama:
a)Suku: Asteraceae (Compositae)
b)Sinonim: Baccharis indica L
c)Nama Daerah
Sumatra: beluntas (Melayu). Jawa: baluntas, baruntas (Sunda), luntas (Jawa),baluntas (Madura). Sulawesi: lamutasa (Makasar). Nusa Tenggara: lenabou (Timor).
d) Nama Simplisia
Lucheae Folium (daun beluntas), Plucheae Radix (akar beluntas).
Habitus : perdu kecil, tumbuh tegak, tinggi bisa mencapai 2 m.
Batang : berambut halus.
Daun : bulat telur, hijau muda, panjang 2 - 9 cm, ujung lancip, Bunga : majemuk, bentuk malai, keluar dari ketiak daun.
Buah : kecil, keras, warna coklat, biji coklat keputih-putihan.
Klasifikasi Biologi Tumbuhan
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas : Asteridae
Ordo : Asterales
Familia : Asteraceae
Genus : Pluchea
Spesies : Pluchea indica (L.) Less.
G. Uraian Tumbuhan Beluntas
Beluntas umumnya tumbuh liar di daerah kering pada tanah yang keras dan berbatu, atau ditanam sebagai tanaman pagar. Tumbuhan ini memerlukan cukup cahaya matahari atau sedikit naungan, banyak ditemukan di daerah pantai dekat laut sampai ketinggian 1.000 m dpl.
Perdu kecil, tumbuh tegak, tinggi mencapai 2 m, kadang kadang lebih. Percabangan banyak, berusuk halus, berambut lembut.Daun bertangkai pendek, letak berseling, helaian daun bulat telur sungsang, ujung bulat melancip, tepi bergerigi, berkelenjar, panjang 2,5-9 cm, lebar 1-5,5 cm, warnanya hijau terang, bila diremas harum. Bunga majemuk bentuk malai rata, keluar dari ketiak daun dan ujung tangkai, cabang cabang perbungaan banyak sekali, bunga bentuk bonggol bergagang atau duduk, warnanya putih kekuningan sampai ungu. Buah longkah agak berbentuk gasing, kecil, keras, coklat dengan sudut sudut putih, lokos. Biji kecil, coklat keputih putihan. Perbanyakan dengan stek batang yang cukup tua.
1.Sifat dan Khasiat
Daun beluntas berbau khas aromatis dan rasanya etir. Berkhasiat untuk menigkatkan nafsu makan (stomakik), membantu pencernaan, peluruh keringat (diaforetik), pereda demam (antipiretik), dan penyegar.
Akar beluntas berkhasiat sebagai peluruh keringat dan penyejuk (demulcent)
2. Kandungan Kimia
Daun beluntas mengandung alkaloid, flavonoida,tannin, minyak atsiri, asam chlorogenik, natrium, kalium, aluminium, kalsium, magnesiaum, dan fosfor. Sedangkan akarnya mengandung flavonoid dan tannin.
3. Bagian Yang Digunakan
Daun dan akar. Penggunaan segar atau yang telah dikeringkan.
4. Indikasi
Beluntas ini dapat digunakan untuk ; Menghilangkan bau badan, bau mulut, Kurang nafsu makan, Gangguan pencernaan pada anak, TBC kelenjar (skrofuloderma), Nyeri pada rematik, nyeri tulang (osteodinia), sakit pinggang (lumbago), Demam, Datang haid tidak teratur, Keputihan.
5. Cara Pemakaian
Daun atau akar sebanyak 10-15 gr direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, daun dilumatkan lalu dibalutkan untuk pegal linu, luka, scabies, kudis, dan borok.
6. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
1.Uji fertilitas daun beluntas baik berupa perasan, infuse, maserat, dan ekstrak dengan alat soxhlet pda mencit betina yang diberikan secara oral, mempunyai pengaruh antifertilitas pada mencit betina (Willys,Jurusan Farmasi FMIPA, UNHAS, 1990)
2.Kadar minyak atsiri daun beluntas 5% v/v dapat menghambat pertumbuhan Eschericia coli (Atik Herawati, Fak Farmasi, UGM, 1992).
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu pelaksanaan
Percobaan ini dilaksanakan tanggal 20 November 2007 s/d 25 November 2007.
B.Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan adalah daun tumbuhan beluntas (Puchea Indica [L] Less).
C.Alat dan Bahan Alat
•Lumpang •Pisau / gunting •plat tetes •tabung reaksi •pipet tetes •corong
•pemanas •pasir halus bersih •kapas Bahan
•Contoh ( simplisia tumbuhan : daun, akar, batang, kulit batang, bunga, buah, biji)
•Amoniak-kloroform 0.05 N ( 1 ml amoniak dalam 250 ml kloroform )
•H2SO4 2 N •Pereaksi Mayer, Pereaksi Wagner, Pereaksi Dragendorf.
•Metanol •Asam sulfat pekat •Serbuk magnesium
D. Prosedur Kerja
a.Identifikasi Alkaloid : Metoda Culvenor-Fiztgerald
Kira-kira 4 gram sampel segar dirajang halus dan digerus dalam lumpang dengan bantuan pasir, lalu ditambahkan kloroform sedikit sampai membentuk pasta.
Tambahkan 10 ml larutan amoniak-kloroform 0.05 N dan digerus lagi, saring campuran kedalam sebuah tabung reaksi kering.
Tmbahkan 10 ml H2SO4 2 N dan kocok kuat. Diamkan larutan sampai terbentuk dua lapisan.
Dengan menggunakan pipet yang telah diberi kapas pada ujungnya untuk menyaring, ambil lapisan asam sulfat dan masukan kedalam tabung reaksi kecil ( Lapisan kloroform disimpan untuk pengujian terpenoid ).
Filtrat diuji dengan pereaksi Mayer, Wagner dan Dragendorf. Terbentuknya endapan putih atau keruh dengan pereaksi Mayer. Endapan coklat dengan pereaksi Wagner dan endapan orange dengan pereaksi Dragendorf menunjukan sampel mengandung alkaloid.
b.Identifikasi Flavonoid : Shinoda Test / sianidin Test
Kira-kira 0.5 mg sampel yang telah dirajang halus, diekstrak dengan 5 ml metanol dan dipanaskan selama 5 menit dalam tabung reaksi. Ekstraknya ditambahkan beberapa tetes HCl pekat dan sedikit serbuk magnesium. Bila terjadi perubahan warna merah/pink atau kuning menunjukan sampel mengandung flavonoid.
c.Identifikasi Steroid / terpenoid : Metode Lieberman-Burchard
Beberapa tetes kloroform pada uji alkaloid, ditempatkan pada plat tetes. Tambahkan anhidrida asetat 5 tets dan biarkan mengering. Kemudian ditambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Timbulnya warna merah jingga atau ungu menandakan uji positif terhadap triterpenoid, sedangkan warna biru menunjukan uji positif untuk steroid.
d.Identifikasi Saponin : Uji Busa
Uji saponin ini sebaiknya digunakan sampel yang telah dikeringkan, karena test yang digunakan adalah test pembentukan busa. Bila sampel yang basah dididihkan dengan air suling, kemungkinan cairan sel akan membentuk busa bila dikocok.
Caranya : sampel kering dirajang halus, dimasukan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan air suling, didihkan selama 2-3 menit. Dinginkan, setelah dingin dikocok dengan kuat. Adanya busa yang stabil selama 5 menit berarti sampel mengandung saponin.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.Alkaloid
Uji alkaloid pada daun beluntas tidak dapat dilakukan karena keterbatasan reagen, namun hasil yang harus didapat adalah positif, sesuai dengan literatur daun beluntas mengandung alkaloid (Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, jilid I :19)
b.Uji Flavonoid
Uji Flavoid pada daun Beluntas dengan menggunakan HCl p.a dan sedikit serbuk magnesium menimbulkan perubahan warna pink, ini berarti bahwa daun beluntas mengandung Flavonoid. Hal ini sesuai dengan pernyataan pada literatur bahwa daun beluntas mengandung Flavonoid (Atlas Tumbuhan Obat Ibndonesia, jilid 1 :19)
c.Uji Saponin
Pada uji saponin daun beluntas menunjukkan hasil negativ dimana setelah perlakuan tidak menimbulkan busa yang harusnya ada pada uji positif. Dari data ini dapat dinyatakan bahwa daun beluntas tidak mengandung merabolid sekunder (Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 1 :19)
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari percobaan Ini dapat disimpulkan bahwa :1)Daun beluntas merupakan salah satu tanaman obat.2)Daun beluntas mengandung metabolid sekunder Flavonoid.3)Daun beluntas mengandung metabolid sekunder Alkaloid.4)Daun beluntas tidak mengandung metabolid sekunder Saponin
B.Saran
Diharapkan untuk praktikum berikutnya, reagen dan alat yang dibutuhkan tersedia dengan lengkap sehingga percobaan dapat dilakukan dengan baik dan semua materi yang akan dipraktikumkan dapat dilaksanakan.
Senin, 27 Oktober 2008
Analisa kandungan kimia berkhasiat kapas merah
LIFIA RAHAYU 66972 / 2005 PENDIDIKAN KIMIA NR
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2007
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut kamus dewan, tumbuh-tumbuhan adalah segala yang hidup dan berbatang, berakar,berdahan,berdaun dan sebagainya.Tumbuh-tumbuhan dapat digunakan sebagai penawar dan peracun dalam kehidupan seharian manusia.Dalam aspek ini, tumbuh-tumbuhan dapat dibagi kepada dua kategori yaitu tumbuhan beracun dan tidak beracun.. Aspek-aspek yang dikaji adalah tentang bahagian yang tidak beracun atau berkhasiat bagi manusia terutama pada bagian daunnya.
Tercatat Indonesia memiliki ratusan jenis tanaman yang potensial mengandung bahan obat.Meskipun belum semua terteliti, sekitar 200 jenis tanaman telah melalui proses skrining oleh kalangan peneliti. Konon, Indonesia memang memiliki lebih dari 9.000 spesies tanaman obat.Namun,ternyata baru 350 spesies yang teridentifikasi dan hanya 3–4% yang telah dimanfaatkan secara komersial ( Abdul, 2007 ).
Kapas merupakan salah satu tanaman obat yang ada di Indoneia. Daun Kapas digunakan untuk pengobatan radang usus (enteritis), demam, dan batuk berdahak. Tumbuhan kapas ini merupakan herba satu tahunan, semak tahunan atau jarang berupa pohon kecil, hampir di semua bagian terdapat titik-titik kelenjar minyak berwarna hitam Buah, bunga dan daun Gossypium arboreum ( daun kapas ) mengandung saponin, flavonoida,polifenol dan alkaloida( Wardiyono, 2007 ).
Selain itu, kapas juga merupakan tanaman serat yang penting di dunia. Serat utama dari tanaman kapas adalah rambut biji yang panjang (`lint`), yang digunakan untuk membuat benang dan dipintal dalam pabrik tekstil, baik digunakan sendiri atau dikombinasi dengan tanaman lain, serat binatang atau serat sintetik. Akar atau kulit akar kapas (mian hua gen) rasanya manis, sifatnya hangat. Berkhasiat tonik pada lambung, limpa, dan vital energi, antitusif, antiasmatik, merangsang kontraksi rahim, mempercepat kelahiran bayi, abortivum, mengurangi keluarnya darah haid, mempermudah pembekuan darah, dan merangsang keluarnya air susu ibu (ASI). Biji kapas (mian hua zi) rasanya pedas, sifatnya panas. Tonik untuk hati dan ginjal, menguatkan tulang punggung dan lutut, menghentikan perdarahan (hemostatis), kontraksi rahim, menekan produksi sperma, pereda demam (antipiretik), antiradang, dan pelembut kulit. Selain itu, mempunyai efek antibakteri dan antivirus (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Oleh karena itu, penulis lebih tertarik akan khasiat dari tumbuhan herbal kapas ini sehingga dilakukan pengujian metabolit sekunder yang terkandung dalam tumbuhan ini yang terangkum pada paper ini.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari paper ini untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder ( alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, dan saponin ) pada daun kapas sehingga dapat mengetahui manfaat dan kegunaan dari daun herbal ini.
1.3Pembatasan Masalah
Penulis membatasi penulisan ini hanya pada identifikasi tumbuhan kapas pada bagian daunnya yang mengandung kandungan metabolit sekunder.
1.4 Perumusan Masalah
Hal ini dilatarbelakangi pada permasalahan bagaimana mengidentifikasi daun beluntas ini dan metabolit sekunder apa yang terkandung di dalamnya.
1.5 Manfaat Penulisan
Penulis mengharapkan pada penulisan paper ini dapat memberikan informasi mengenai daun kapas yang mengandung beberapa metabolit sekunder dan manfaatnya sebagai tumbuhan obat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Botani Tumbuhan 2.1.1 Gambar
2.1.2 Klasifikasi
Kingdom: Plantae (tumbuhan); Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio: Spermatophyta (menghasilkan biji; Divisio: Magnoliophyta (berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil; Sub-kelas: Dilleniidae
Ordo: Malvales; Familia: Malvaceae (suku kapas-kapasan)
Genus: Gossypium; Spesies: Gossypium arboreum L.
Nama Lokal kapas. - Gossypium arboreum Linn.: kapas merah (umum), kapas beureum (Sunda), kapas jawa (Jawa).; - Gossypium barbadense Linn.: kapas rampit, kapas kayu; - Gossypium hirsutum Cav.: kapas mori (Jawa), kapas kejerat (Sumatra).
Deskripsi Perdu, tinggi 2-3 m.
Batang berkayu, tegak, bulat, hijau kotor.
Daun tunggal, bentuk perisai. bercangap menjari tiga sampai lima, pertulangan menjari, tangkai panjang 6-10 cm, hijau.
Bunga tunggal, di ujung cabang dan di ketiak daun, kelopaktiga, bentuk bulat dengan pangkal melengkung, mahkota bulat, kuning.
Buah kotak, lonjong, ujung runcing, panjang 5-6 cm, masih muda hijau setelah tua coklat kehitaman.
Biji bentuk ginjal, diselimuti rambut putih, hitam.
Akar tunggang, putih kotor.
Habitat Saat ini, kapas ditemukan pada 47°N to 32°S. Temperatur optimum untuk perkecambahan adalah 9-30°C dan temperatur minimum sekitar 14-15°C, meski beberapa berkecambah pada suhu hingga 12°C. Untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimum membutuhkan temperatur 25-30°C.
Perbanyakan Perbanyakan kapas dilakukan dengan biji. Pengelolaan biji dan distribusi sangat penting untuk menjamin kualitas dan kemurnian biji.
Bagian yang digunakan Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah biji, akar, daun, clan buah mudanya.
Khasiat tumbuhan Biji digunakan untuk mengatasi:
- disfungsi ereksi (impoten), - ngompol (enuresis), - berkeringat pada malam hari,- wasir, dubur turun (prolaps anus), - perdarahan clan keluarnya cairan dari liang sanggama (vagina), - disentri,- nyeri perut clan ulu hati,
- demam yang hilang timbul, - radang telinga, - memperbanyak keluarnya air susu ibu (ASI), dan - kontrasepsi pada pria.
Akar digunakan untuk:
- terlambat haid, - mengurangi keluarnya darah haid yang banyak, - mengurangi nyeri haid akibat endometriosis, - mempermudah persalinan, - mengatasi gangguan pencernaan,
- fungsi limpa yang menurun dengan gejala batuk dan sesak akibat lemahnya energi vital, dan - menghaluskan tumit yang teraba kasar.
Buah muda digunakan untuk pengobatan: - diare.
Daun digunakan untuk pengobatan:- radang usus (enteritis), -demam, dan batuk berdahak.
CARA PEMAKAIAN
Untuk obat yang diminum, tidak ada rekomendasi dosis. Urftuk pemakaian luar, giling daun segar sampai halus, lalu gunakan untuk menurap panu, luka, luka bakar, dan memar. Biji yang digiling halus digunakan untuk menurap herpes, skabies, luka, dan radang buah zakar (orkhitis).
CONTOH PEMAKAIAN DI MASYARAKAT
Diare
Cuci clan potong buah kapas yang masih mucla clan segar (lima buah). Rebus dengan satu gelas air selama 15 menit. Setelah dingin, saring dan minum airnya sekaligus.
Disfungsi ereksi (impoten)
Gongseng biji kapas (300 g) sampai kuning sambil tambahkan arak beras 1-2 sendok teh. Gongseng pula biji bawang putih di tempat terpisah. Selanjutnya, giling semua bahan sampai halus. Untuk pemakaian, ambil 10 g bubuk campuran tadi, larutkan dalam arak dan minum sewaktu perut kosong.
Berkeringat malam
Masukkan biji kapas sebanyak 10 g ke dalam panci email bersama tiga gelas air. Rebus dengan api kecil sampai airnya tersisa separuhnya. Setelah dingin, minum airnya sekaligus pada waktu perut kosong. Lakukan sekali sehari.
Mempermudah persalinan
Iris akar kapas tipis-tipis, lalu seduh dan minum seperti minum teh.
Catatan:
Ibu hamil dilarang minum rebusan biji clan akar kapas karena dapat menyebabkan keguguran.
Gosipol toksisitasnya rendah, namun menimbulkan beberapa efek samping. Pada sebagian pengguna bisa timbul rasa lemah sementara yang terjadi pada fase awal pengobatan tidak memerlukan pengobatan. Sekitar 1,2% pengguna timbul rasa mual dan muntah, sebagian lagi mengeluh menurunnya hasrat seksual.
Bisa timbul hipokalemia pada sebagian pengguna obat ini tanpa menimbulkan gejala akibat kekurangan kalium. Sebaiknya, pemakaian obat ini dilakukan dengan pengawasan herbalis berpengalaman.
Kandungan kimia
Buah, bunga clan daun mengandung saponin, flavonoida, polifenol, dan alkaloid. Kulit akar mengandung gosipol (asesquiterpene) 0,56-2,05%, asparagine, campuran resin, dan arginine. Minyak dari biji mengandung sekitar 2% gosipol dan flavonoid, serta kandungan asam lemak tak jenuh yaitu asam linoleat (54,16%) dan asam oleat (15,58%). Selain itu, terdapat asam lemak jenuh, seperti palmitat, miristat, stearat, dan arakidat. Gosipol berkhasiat menekan produksi sperma dan merangsang kontraksi rahim. Tingginya kadar asam lemak tak jenuh menyebabkan penggunaannya tidak akan meningkatkan kadar kolesterol darah. Bunga mengandung kaempferol, herbacitrin, quercetin, isoquercetin, gossypetin, clan gossypitrin.
Sumber: 0. Sticker, 1976 Detil Data Gossypium , 2007 37
2.2 Metabolit Sekunder
2.2.1 Alkaloid
Dalam dunia medis dan kimia organik, istilah alkaloid telah lama menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dalam penelitian yang telah dilakukan selama ini, baik untuk mencari senyawa alkaloid baru ataupun untuk penelusuran bioaktifitas. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu.
Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu buah atom nitrogen yang bersifat basa dan merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal dengan titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Alkaloid dapat juga berbentuk amorf atau cairan. Dewasa ini telah ribuan senyawa alkaloid yang ditemukan dan dengan berbagai variasi struktur yang unik, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit.
Alkaloid sangat penting dalam industri farmasi karena kebanyakan alkaloid mempunyai efek fisiologis. Pada umumnya alkaloid tidak ditemukan dalam gymnospermae, paku – pakuan, lumut dan tumbuhan rendah.
Sistem klasifikasi yang banyak diterima adalah pembagian alkaloid menjadi tiga golongan yaitu :
a.Alkaloid sesungguhnya
Bersifat racun dan menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas. Diturunkan secara biosintesis dari asam amino dan biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik.
b.Protoalkaloid
Merupakan amina yang relatif sederhana dan ditandai dengan adanya atom N yang berada di luar cincin heterosiklis.
c.Pseudoalkaloid
Senyawa bersifat basa. Yang termasuk dalam pseudoalkaloid adalah alkaloid steroidal dan purin.
Pembagian alkoloid yang lain adalah
a.Alkoloid heterosiklis; b.Alkaloid dengan eksossiklis dan amina alifatis; c.Alkaoid putreskin, spermidin dan spermin; d.Alkaloid peptida; e.Alkaloid terpen dan steroidal.
2.2.2 Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar. Golongan flavonoid mencakup banyak pigmen yang paling umum dan terdapat pada seluruh dunia tumbuhan mulai dari fungus sampai angiospermae.
Flavonoid adalah jenis campuran yang dihasilkan oleh tumbuhan secara alami, yang berfungsi sebagai antioksidan. Campuran tersebut seperti pada zat warna tanaman dan walaupun tak tergolong sebagai bahan gizi penting, mereka mampu menghasilkan vitamin C, yang menjadikannya antioksidan yang sangat kuat. Flavonoids juga dibutuhkan untuk memelihara dinding kapiler dan melindungi dari infeksi. Kekurangan flavonoid akan menyebabkan tubuh mudah memar.
Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deret senyawa C6�C3�C6 artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzena tersubtitusi) disambungkan oleh rantai alifatik ketiga karbon. Flavonoid mempunyai sifat yang khas yaitu bau yang sangat tajam, sebagian besar merupakan pigmen warna kuning, dapat larut dalam air dan pelarut organik, mudah terurai pada temperature tinggi.
Campuran flavonoid dapat ditemui pada buah-buahan seperti berry, apel, bawang putih, anggur merah, teh, anggur hijau, jeruk, jeruk lemon, cherry, sayur-sayuran hijau, alga biru dan hijau dan banyak lagi yang lain.
Flavonoid tak hanya melindungi dari zat berbahaya yang merusak sel, tapi juga mencegah tumbuhnya bibit penyakit kanker dalam tubuh, memperlambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker dalam tubuh, dan lain-lain.
Walaupun studi yang terdahulu menunjukkan bahwa hampir semua buah-buahan dan sayuranmengandung campuran anti-kanker yang sangat ampuh, para peneliti gagal menemukan apakah jenis antioksidan tanaman yang menghancurkan sel tumor itu dan bagaimana cara kerja mereka.
Flavonoid punya sejumlah kegunaan. Pertama, terhadap tumbuhan, yaitu sebagai pengatur tumbuhan, pengatur fotosintesis, kerja antimiroba dan antivirus. Kedua, terhadap manusia, yaitu sebagai antibiotik terhadap penyakit kanker dan ginjal, menghambat perdarahan. Ketiga, terhadap serangga, yaitu sebagai daya tarik serangga untuk melakukan penyerbukan. Keempat, kegunaan lainnya adalah sebagai bahan aktif dalam pembuatan insektisida nabati dari kulit jeruk manis (Arda Dinata).
Pemberian atom hidrogen ini akan menyebabkan radikal bebas menjadi stabil dan berhenti melakukan gerakan ekstrim, sehingga tak merusak lipida, protein, dan DNA (materi genetik) yang menjadi target kerusakan seluler. Hal senada dikatakan oleh Kandaswami dan Middleton (1997), bahwa flavonoid dapat bertindak sebagai quencer oksigen singlet dan sebagai chelator logam.
2.2.3 Steroid
Steroid adalah suatu kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar siklopentanaperhidrofenantrena, mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa – senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu. Steroid meliputi empat golongan, yaitu kolesterol, hormon, adrenokortikoid, hormon seksual, dan asam empedu.
Kolesterol ditemukan dalam semua organisme dan merupakan bahan awal untuk pembentukan asam empedu, hormon steroid, dan vitamin D. Walaupun kolesterol esensial bagi mahluk hidup, tapi berimplikasi terhadap pembentukan ‘plek’ pada dinding pembuluh nadi (suatu proese yang disebut arteosclerosis, atau pengerasan pembuluh), bahkan dapat mengakibatkan penyumbatan. Gejala ini penting terutama dalam pembuluh yang memasok darah ke jantung. Penyumbatan pada pembuluh ini menimbulkan kerusakan jantung, yang pada gilirannya dapat menimbulkan kematian akibat serangan jantung.
Steroid “hewan” yang khas, kolesterol, terdapat pada lipid permukaan dan organel tumbuhan, tetapi seringkali tidak ditemukan karena senyawa ini terdapat sebagai ester dan glikosida yang tidak larut dalam pelarut yang biasa dipakai untuk sterol bebas.
Beberapa senyawa ini, jika memang terdapat dalam tumbuhan, mungkin berperan sebagai pelindung, tetapi contoh yang baik untuk fungsi seperti itu hanya diberikan oleh empat golongan steroid yang aneh.
2.2.4 Terpenoid
Terpenoid merupakan senyawa yang tersusun oleh kerangka karbon, terdiri dari dua atau lebih unit isopren. Terpenoid merupakan kelompok besar senyawa sekunder yang meliputi minyak esensial, triterpenoid nonvolatil, sterol, dan pigmen karotinoid. Dalam sel tumbuhan, terpenoid ditemukan dalam sitoplasma atau pada kelenjar khusus.
Senyawa terpenoid adalah senyawa hidrokarbon isometric yang juga terdapat pada lemak/minyak esensial (essential oils), yaitu sejenis lemak yang sangat penting bagi tubuh. Zat-zat terpenoid membantu tubuh dalam proses sintesa organic dan pemulihan sel-sel tubuh. Harum atau bau dari tanaman disebabkan oleh fraksi minyak esensial. Minyak tersebut merupakan metabolit sekunder yang kaya akan senyawa dengan struktur isopren.
Petua Isoprena menyatakan bahawa sesuatu sebatian merupakan satu terpenoid jika boleh dibahagikan kepada 5 unit atom karbon (Wallach, 1887) yang digabung melalui sambungan kepala ke ekor (Ingold, 1925) karbon 1 adalah kepala bagi unit isoprena manakala karbon 4 adalah ekor. Boleh didapati dalam semua pengkelasan benda hidup merupakan komponen utama minyak pati, digunakan secara meluas kerana kualiti aromanya (herba tradisional dalam industri tumbuhan). Dalam penyelidikan sebagai bahan antibakteria, antineoplastik dan kegunaan dalam bidang farmaseutikal lain Menjadikan bau wangi kepada pokok kayu putih, perasa kepada kayu manis, cengkih, halia dan warna kepada bunga kuning.Terpenoid seperti citral, menthol, camphor dan cannabinoids boleh didapati dalam pokok ganja steroid dan sterol dalam haiwan dihasilkan secara biologi daripada pemula terpenoid (terpenoid precursor)
2.2.5 Saponin
Saponin mula – mula diberi nama demikian karena sifatnya yang menyerupai sabun ( bahasa latin sapo berarti sabun ). Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan, dan tumbuhan mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus – ratus tahun.
Pada beberapa tahun terakhir ini saponin tertentu menjadi penting karena dapat diperoleh dari beberapa tumbuhan dengan hasil yang baik dan digunakan sebagai bahan baku untuk sintesis hormon steroid yang digunakan dalam bidang kesehatan.
Sifat – sifat Saponin :
1.Berasa pahit. 2.Berbusa dalam air. 3.Mempunyai sifat detergen yang baik. 4.Beracun bagi binatang berdarah dingin. 5.Mempunyai sifat anti inflamatori 6.Mempunyai aplikasi yang baik dalam preparasi film fotografi.
Berdasarkan sifat-sifat tersebut, senyawa saponin mempunyai kegunaan yang sangat luas, antara lain:
1.Pembasmi hama udang. 2.Sebagai detergen pada industri tekstil. 3.Pembentuk busa pada alat pemadam kebakaran. 4 Pembentuk busa pada sampo. 5.Dalam industri farmasi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Waktu Pelaksanaan
Praktek ini dilaksanakan pada hari jumat, 23 Desember 2007 di Laboratorium Kimia FMIPA UNP.
3.2Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan adalah daun kapas (Gossypium arboreum L )
3.3Alat dan Bahan
Lumpang; Pisau/gunting; Plat tetes; Pipet tetes Corong pemanas; Pasir halus bersih; Tabung reaksi; Kapas
Simplisia tumbuhan(daun kapas); Amoniak – kloroform 0,05 N (1 ml amoniak dalam 250 mL kloroform); H2SO4 2N; Pereaksi mayer; Pereaksi Wagner; Pereaksi Dragendorf; Metanol; Asam sulfat pekat; Anhidrida asetat; Asam klorida pekat; Serbuk Magnesium.
3.4Prosedur Kerja
A.Identifikasi Alkaloid : Metoda Culvenor – Fitzgerald
4 gr sampel segar Dirajang halus dan digerus
Di dalam lumpang dengan bantuan pasir
Ditambah kloroform dan digerus
Membentuk Pasta
Ditambah 10 ml larutan amonia – kloroform 0,05 N dan disaring
Campuran dalam tabung reaksi
Ditambah 5 mL larutan H2SO4 2N dan didiamkan
Terbentuk 2 lapisan
Diambil
lapisan asam sulfat
Dimasukkan
Tabung reaksi
Diuji
filtrat
Pereaksi Mayer Pereaksi Dragendorf
Pereaksi Wagner
Tes positif Tes positif Tes positif
endapan putih endapan coklat endapan orange
. Identifikasi Flavonoid : Shinoda test / sianidin test
0,5 gram sampel halus
Diekstrak dg 5 mL metanol
Dipanaskan selama 5 menit
Ditambah 5 tetes HCl pekat dan sedikit serbuk Mg
Campuran ekstrak
Tes positif
Warna berubah menjadi merah / pink / kuning
C. Identifikasi steroid/terpenoid : Metoda Lieberman – Burchard
3 tetes lapisan kloroform pada alkaloid
Diteteskan
Pada plat tetes
Ditambah 5 tetes anhidrat asetat dibiarkan kering
filtrat kering
Ditambah 3 tetes H2SO4 pekat
Tes positif
Warna merah / jingga / ungu Warna Biru
terpenoid steroid
D. Identifikasi Saponin : Uji Busa
Sampel kering
Dirajang halus
Dimasukkan dalam tabung reaksi
Ditambah
Air suling
Dididihkan selama 2 – 3 menit dan dinginkan
Campuran dalam tabung reaksi
Dikocok kuat - kuat
Tes positif
Adanya
Busa stabil selama 5 menit
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
UJI PEREAKSI HASIL
Alkaloid Culvenor – Fitzgerald
Mayer
( - ) larutan bening
Wagner ( - ) larutan berwarna hijau
Dragendorf ( - ) larutan berwarna orange
Flavonoid Shinoda test/sianidin test
Metanol, HCl pekat dan serbuk magnesium
( - ) larutan berwarna hijau
Steroid /
Terpenoid Lieberman – Burchard
Kloroform, anhidrida asetat dan H2SO4 pekat ( - ) terpenoid larutan berwarna biru
( + ) steroid menunjukkan larutan berwarna biru
Saponin Uji Busa
Air suling ( - ) busa menghilang setelah 5 menit didiamkan.
4.2 Pembahasan
Pada percobaan yang telah dilakukan dalam mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid dan saponin pada suatu sampel yakni daun kapas.
Pengidentifikasian tersebut dilakukan dengan beberapa metoda, diantaranya sebagai berikut :
a. Identifikasi Alkaloid
Pengujian alkaloid dengan menggunakan metoda Culvenor – Fitzgerald ini. Lapisan asam sulfat yang merupakan filtrat sesuai dengan prosedur dengan cara menggerus sampel sebanyak 4 gram dalam lumpang dan ditambahkan larutan amonia – kloroform 0,05 N serta H2SO4 2N, lalu diuji dengan menggunakan beberapa pereaksi di antaranya adalah :
Pereaksi Mayer
Filtrat yang diuji dengan pereaksi Mayer, terlihat filtrat tetap larutan berwarna bening. Jadi, tes dengan reaksi ini merupakan tes yang negatif, karena tes positif terdapatnya endapan putih atau keruh.
Pereaksi Wagner
Filtrat juga diuji dengan pereaksi Wagner, terlihat filtrat berubah jadi larutan berwarna hijau. Jadi, tes dengan reaksi ini juga merupakan tes yang negatif.
Pereaksi Dragendorf.
Filtrat juga diuji dengan pereaksi Dragendrof, terlihat filtrat berubah jadi larutan berwarna orange. Jadi, tes dengan reaksi ini juga tesnya yang negatif, padahal tes yang menunjukkan tes positif jika terbentuk endapan orange.
Dari ketiga pereaksi yang diuji pada filtrat ini, didapat hasil yang menunjukkan tes yang negatif padahal menurut literatur, filtrat yang diuji mengandung senyawa alkaloid atau menunjukkan tes yang positif adanya alkaloid. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang ada, kemungkinan telah terjadi beberapa kesalahan baik dari pengamatan, prosedur ataupun alat dan bahan yang digunakan.
b. Identifikasi Flavonoid
Pengujian dengan mengidentifikasi flavonoid dengan menggunakan metoda Shinoda test/sianidin test. Pada pengujian ini, sampel dirajang halus dan diekstrak dengan metanol lalu dipanaskan ± 5 menit. Setelah dipanaskan sampel ditambahkan beberapa tetes HCl pekat dan sedikit serbuk magnesium. Hasilnya membentuk larutan yang berwarna hijau sehingga menunjukkan hasil tes yang negatif dikarenakan hasil yang positif terlihat warna larutannya yang berwarna merah / pink atau kuning. Hal ini juga berbeda dengan literatur yang ada bahwa sebenarnya hasil yang ditunjukkan positif mengandung senyawa flavonoid. Kemungkinan telah terjadi kesalahan pada pengamatannya.
c. Identifikasi Steroid/Terpenoid
Metoda yang digunakan adalah metoda Lieberman – Burchard. Pada pengujian ini, lapisan kloroform hasil dari filtrat pada identifikasi alkaloid ditempatkan pada plat tetes dan ditambahkan 5 tetes anhidrida asetat dan dibiarkan mengering. Setelah mengering ditambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Hasilnya menunjukkan tes yang positif untuk steroid, sedangkan tes negatif untuk terpenoid pada daun kapas. Hal ini juga tidak sesuai dengan literatur yang ada bahwa filtrat daun kapas menunjukkan hasil tes yang negatif baik itu pada steroid maupun pada terpenoid. Kemungkinan hal ini terjadi ketika pengambilan filtrat di bagian kloroform masih mengandung lapisan asam sulfat atau kemungkinan lainnya. Padahal pada terpenoid sesuai dengan literatur yang ada karena tidak mengandung terpenoid.
d. Identifikasi Saponin
Identifikasi ini menggunakan metoda uji busa. Dalam pengidentifikasi ini, digunakan daun kapas kering yang dirajang halus, lalu ditambahkan air suling secukupnya dan dipanaskan selama 2 – 3 menit. Setelah dingin, sampel tersebut dikocok kuat – kuat. Pada awalnya, setelah dilakukan pengocokan terbentuk busa. Namun setelah kurang dari 5 menit, busa tersebut hilang dan tidak ada lagi pada sampel. Ini menunjukkan bahwa tes yang dilakukan negatif, sehingga pada tes ini juga ada mengandung saponin. Berbeda dengan literatur yang mana sampel daun kapas mengandung saponin.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengidentifikasian pada percobaan dan hasilnya dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya sebagai berikut :
a. Pada daun kapas ( Gossypium arboreum L. ) tidak mengandung senyawa alkaloid yang dikarenakan tesnya menunjukkan negatif pada pereaksi mayer, wagner dan dragendrof.
b. Daun kapas ( Gossypium arboreum L. ) juga tidak mengandung flavonoid yang berbeda dengan literatur yang mengatakan adanya flavonoid.
c. Daun kapas ( Gossypium arboreum L. ) mengandung steroid yang juga berbeda dengan literartur yang ada, dengan tidak adanya steroid pada daun kapas.
d. Metabolit sekunder yang terpenoid tidak terkandung pada daun kapas ( Gossypium arboreum L. ).
e. Saponin juga tidak ada terkandung pada daun kapas ( Gossypium arboreum L. ).
f. Berbedanya senyawa yang dikandung daun kapas menurut literatur dengan hasil percobaan, kemungkinan telah terjadi berbagai kesalahan baik itu bahan, alat, prosedur maupun pengamatan.
5.2 Saran
Untuk lebih mengetahui dan mengenal lagi mengenai daun kapas ini, penulis menyarankan sebagai berikut :
a. Ketika melakukan percobaan, sebaiknya sampel yang akan diuji harus digerus dengan halus / dirajang dengan halus agar kandungan kimia yang dikandung pada sampel dapat keluar.
b. Dalam penggerusan sampel digunakan alat yang lebih akurat agar didapat sampel yang sangat halus.
c. Sebaiknya sampel yang digunakan daun yang berumur menengah atau dengan kata lain daunnya tidak terlalu muda maupun juga tidak terlalu tua, kemungkinan hal ini berpengaruh.
d. Dalam mengidentifikasi sampel tidak difokuskan pada 4 metoda saja dan sebaiknya lebih dari 4 metoda untuk mengidentifikasi sampel.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Alkaloid. Situs Web Wikipedia.
Achmad S. A. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta : Universita terbuka.
Amrun Hidayat, M. Alkaloid Turunan Triptofan. Makalah Ilmiah. In Internet.
Anwar, chairil. 1996. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Yogyakarta.
Bernays, E.A. & R.F. Chapman. 1994. Plant selection bt phytophagous insects. Chapman & Hall. Inc. New York.
Departemen Kesehatan RI. 1985. Tanaman Obat Indonesia Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Fessenden, R dan Fessenden, J. 1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Alih bahasa oleh Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta : Erlangga.
Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.
Tim Kimia Organik. Penuntun Praktikum Kimia Organik 2. Padang : UNP.
Trevon Robinson. 1991. The Organic Constituents of Higher Plants, Alih bahasa : Dr Kosasih Padmawinata. Bandung : ITB.
Wardiyono. 2007. Detil Data Gossypium. In Internet.
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2007
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut kamus dewan, tumbuh-tumbuhan adalah segala yang hidup dan berbatang, berakar,berdahan,berdaun dan sebagainya.Tumbuh-tumbuhan dapat digunakan sebagai penawar dan peracun dalam kehidupan seharian manusia.Dalam aspek ini, tumbuh-tumbuhan dapat dibagi kepada dua kategori yaitu tumbuhan beracun dan tidak beracun.. Aspek-aspek yang dikaji adalah tentang bahagian yang tidak beracun atau berkhasiat bagi manusia terutama pada bagian daunnya.
Tercatat Indonesia memiliki ratusan jenis tanaman yang potensial mengandung bahan obat.Meskipun belum semua terteliti, sekitar 200 jenis tanaman telah melalui proses skrining oleh kalangan peneliti. Konon, Indonesia memang memiliki lebih dari 9.000 spesies tanaman obat.Namun,ternyata baru 350 spesies yang teridentifikasi dan hanya 3–4% yang telah dimanfaatkan secara komersial ( Abdul, 2007 ).
Kapas merupakan salah satu tanaman obat yang ada di Indoneia. Daun Kapas digunakan untuk pengobatan radang usus (enteritis), demam, dan batuk berdahak. Tumbuhan kapas ini merupakan herba satu tahunan, semak tahunan atau jarang berupa pohon kecil, hampir di semua bagian terdapat titik-titik kelenjar minyak berwarna hitam Buah, bunga dan daun Gossypium arboreum ( daun kapas ) mengandung saponin, flavonoida,polifenol dan alkaloida( Wardiyono, 2007 ).
Selain itu, kapas juga merupakan tanaman serat yang penting di dunia. Serat utama dari tanaman kapas adalah rambut biji yang panjang (`lint`), yang digunakan untuk membuat benang dan dipintal dalam pabrik tekstil, baik digunakan sendiri atau dikombinasi dengan tanaman lain, serat binatang atau serat sintetik. Akar atau kulit akar kapas (mian hua gen) rasanya manis, sifatnya hangat. Berkhasiat tonik pada lambung, limpa, dan vital energi, antitusif, antiasmatik, merangsang kontraksi rahim, mempercepat kelahiran bayi, abortivum, mengurangi keluarnya darah haid, mempermudah pembekuan darah, dan merangsang keluarnya air susu ibu (ASI). Biji kapas (mian hua zi) rasanya pedas, sifatnya panas. Tonik untuk hati dan ginjal, menguatkan tulang punggung dan lutut, menghentikan perdarahan (hemostatis), kontraksi rahim, menekan produksi sperma, pereda demam (antipiretik), antiradang, dan pelembut kulit. Selain itu, mempunyai efek antibakteri dan antivirus (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Oleh karena itu, penulis lebih tertarik akan khasiat dari tumbuhan herbal kapas ini sehingga dilakukan pengujian metabolit sekunder yang terkandung dalam tumbuhan ini yang terangkum pada paper ini.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari paper ini untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder ( alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, dan saponin ) pada daun kapas sehingga dapat mengetahui manfaat dan kegunaan dari daun herbal ini.
1.3Pembatasan Masalah
Penulis membatasi penulisan ini hanya pada identifikasi tumbuhan kapas pada bagian daunnya yang mengandung kandungan metabolit sekunder.
1.4 Perumusan Masalah
Hal ini dilatarbelakangi pada permasalahan bagaimana mengidentifikasi daun beluntas ini dan metabolit sekunder apa yang terkandung di dalamnya.
1.5 Manfaat Penulisan
Penulis mengharapkan pada penulisan paper ini dapat memberikan informasi mengenai daun kapas yang mengandung beberapa metabolit sekunder dan manfaatnya sebagai tumbuhan obat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Botani Tumbuhan 2.1.1 Gambar
2.1.2 Klasifikasi
Kingdom: Plantae (tumbuhan); Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio: Spermatophyta (menghasilkan biji; Divisio: Magnoliophyta (berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil; Sub-kelas: Dilleniidae
Ordo: Malvales; Familia: Malvaceae (suku kapas-kapasan)
Genus: Gossypium; Spesies: Gossypium arboreum L.
Nama Lokal kapas. - Gossypium arboreum Linn.: kapas merah (umum), kapas beureum (Sunda), kapas jawa (Jawa).; - Gossypium barbadense Linn.: kapas rampit, kapas kayu; - Gossypium hirsutum Cav.: kapas mori (Jawa), kapas kejerat (Sumatra).
Deskripsi Perdu, tinggi 2-3 m.
Batang berkayu, tegak, bulat, hijau kotor.
Daun tunggal, bentuk perisai. bercangap menjari tiga sampai lima, pertulangan menjari, tangkai panjang 6-10 cm, hijau.
Bunga tunggal, di ujung cabang dan di ketiak daun, kelopaktiga, bentuk bulat dengan pangkal melengkung, mahkota bulat, kuning.
Buah kotak, lonjong, ujung runcing, panjang 5-6 cm, masih muda hijau setelah tua coklat kehitaman.
Biji bentuk ginjal, diselimuti rambut putih, hitam.
Akar tunggang, putih kotor.
Habitat Saat ini, kapas ditemukan pada 47°N to 32°S. Temperatur optimum untuk perkecambahan adalah 9-30°C dan temperatur minimum sekitar 14-15°C, meski beberapa berkecambah pada suhu hingga 12°C. Untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimum membutuhkan temperatur 25-30°C.
Perbanyakan Perbanyakan kapas dilakukan dengan biji. Pengelolaan biji dan distribusi sangat penting untuk menjamin kualitas dan kemurnian biji.
Bagian yang digunakan Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah biji, akar, daun, clan buah mudanya.
Khasiat tumbuhan Biji digunakan untuk mengatasi:
- disfungsi ereksi (impoten), - ngompol (enuresis), - berkeringat pada malam hari,- wasir, dubur turun (prolaps anus), - perdarahan clan keluarnya cairan dari liang sanggama (vagina), - disentri,- nyeri perut clan ulu hati,
- demam yang hilang timbul, - radang telinga, - memperbanyak keluarnya air susu ibu (ASI), dan - kontrasepsi pada pria.
Akar digunakan untuk:
- terlambat haid, - mengurangi keluarnya darah haid yang banyak, - mengurangi nyeri haid akibat endometriosis, - mempermudah persalinan, - mengatasi gangguan pencernaan,
- fungsi limpa yang menurun dengan gejala batuk dan sesak akibat lemahnya energi vital, dan - menghaluskan tumit yang teraba kasar.
Buah muda digunakan untuk pengobatan: - diare.
Daun digunakan untuk pengobatan:- radang usus (enteritis), -demam, dan batuk berdahak.
CARA PEMAKAIAN
Untuk obat yang diminum, tidak ada rekomendasi dosis. Urftuk pemakaian luar, giling daun segar sampai halus, lalu gunakan untuk menurap panu, luka, luka bakar, dan memar. Biji yang digiling halus digunakan untuk menurap herpes, skabies, luka, dan radang buah zakar (orkhitis).
CONTOH PEMAKAIAN DI MASYARAKAT
Diare
Cuci clan potong buah kapas yang masih mucla clan segar (lima buah). Rebus dengan satu gelas air selama 15 menit. Setelah dingin, saring dan minum airnya sekaligus.
Disfungsi ereksi (impoten)
Gongseng biji kapas (300 g) sampai kuning sambil tambahkan arak beras 1-2 sendok teh. Gongseng pula biji bawang putih di tempat terpisah. Selanjutnya, giling semua bahan sampai halus. Untuk pemakaian, ambil 10 g bubuk campuran tadi, larutkan dalam arak dan minum sewaktu perut kosong.
Berkeringat malam
Masukkan biji kapas sebanyak 10 g ke dalam panci email bersama tiga gelas air. Rebus dengan api kecil sampai airnya tersisa separuhnya. Setelah dingin, minum airnya sekaligus pada waktu perut kosong. Lakukan sekali sehari.
Mempermudah persalinan
Iris akar kapas tipis-tipis, lalu seduh dan minum seperti minum teh.
Catatan:
Ibu hamil dilarang minum rebusan biji clan akar kapas karena dapat menyebabkan keguguran.
Gosipol toksisitasnya rendah, namun menimbulkan beberapa efek samping. Pada sebagian pengguna bisa timbul rasa lemah sementara yang terjadi pada fase awal pengobatan tidak memerlukan pengobatan. Sekitar 1,2% pengguna timbul rasa mual dan muntah, sebagian lagi mengeluh menurunnya hasrat seksual.
Bisa timbul hipokalemia pada sebagian pengguna obat ini tanpa menimbulkan gejala akibat kekurangan kalium. Sebaiknya, pemakaian obat ini dilakukan dengan pengawasan herbalis berpengalaman.
Kandungan kimia
Buah, bunga clan daun mengandung saponin, flavonoida, polifenol, dan alkaloid. Kulit akar mengandung gosipol (asesquiterpene) 0,56-2,05%, asparagine, campuran resin, dan arginine. Minyak dari biji mengandung sekitar 2% gosipol dan flavonoid, serta kandungan asam lemak tak jenuh yaitu asam linoleat (54,16%) dan asam oleat (15,58%). Selain itu, terdapat asam lemak jenuh, seperti palmitat, miristat, stearat, dan arakidat. Gosipol berkhasiat menekan produksi sperma dan merangsang kontraksi rahim. Tingginya kadar asam lemak tak jenuh menyebabkan penggunaannya tidak akan meningkatkan kadar kolesterol darah. Bunga mengandung kaempferol, herbacitrin, quercetin, isoquercetin, gossypetin, clan gossypitrin.
Sumber: 0. Sticker, 1976 Detil Data Gossypium , 2007 37
2.2 Metabolit Sekunder
2.2.1 Alkaloid
Dalam dunia medis dan kimia organik, istilah alkaloid telah lama menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dalam penelitian yang telah dilakukan selama ini, baik untuk mencari senyawa alkaloid baru ataupun untuk penelusuran bioaktifitas. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu.
Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu buah atom nitrogen yang bersifat basa dan merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal dengan titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Alkaloid dapat juga berbentuk amorf atau cairan. Dewasa ini telah ribuan senyawa alkaloid yang ditemukan dan dengan berbagai variasi struktur yang unik, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit.
Alkaloid sangat penting dalam industri farmasi karena kebanyakan alkaloid mempunyai efek fisiologis. Pada umumnya alkaloid tidak ditemukan dalam gymnospermae, paku – pakuan, lumut dan tumbuhan rendah.
Sistem klasifikasi yang banyak diterima adalah pembagian alkaloid menjadi tiga golongan yaitu :
a.Alkaloid sesungguhnya
Bersifat racun dan menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas. Diturunkan secara biosintesis dari asam amino dan biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik.
b.Protoalkaloid
Merupakan amina yang relatif sederhana dan ditandai dengan adanya atom N yang berada di luar cincin heterosiklis.
c.Pseudoalkaloid
Senyawa bersifat basa. Yang termasuk dalam pseudoalkaloid adalah alkaloid steroidal dan purin.
Pembagian alkoloid yang lain adalah
a.Alkoloid heterosiklis; b.Alkaloid dengan eksossiklis dan amina alifatis; c.Alkaoid putreskin, spermidin dan spermin; d.Alkaloid peptida; e.Alkaloid terpen dan steroidal.
2.2.2 Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar. Golongan flavonoid mencakup banyak pigmen yang paling umum dan terdapat pada seluruh dunia tumbuhan mulai dari fungus sampai angiospermae.
Flavonoid adalah jenis campuran yang dihasilkan oleh tumbuhan secara alami, yang berfungsi sebagai antioksidan. Campuran tersebut seperti pada zat warna tanaman dan walaupun tak tergolong sebagai bahan gizi penting, mereka mampu menghasilkan vitamin C, yang menjadikannya antioksidan yang sangat kuat. Flavonoids juga dibutuhkan untuk memelihara dinding kapiler dan melindungi dari infeksi. Kekurangan flavonoid akan menyebabkan tubuh mudah memar.
Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deret senyawa C6�C3�C6 artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzena tersubtitusi) disambungkan oleh rantai alifatik ketiga karbon. Flavonoid mempunyai sifat yang khas yaitu bau yang sangat tajam, sebagian besar merupakan pigmen warna kuning, dapat larut dalam air dan pelarut organik, mudah terurai pada temperature tinggi.
Campuran flavonoid dapat ditemui pada buah-buahan seperti berry, apel, bawang putih, anggur merah, teh, anggur hijau, jeruk, jeruk lemon, cherry, sayur-sayuran hijau, alga biru dan hijau dan banyak lagi yang lain.
Flavonoid tak hanya melindungi dari zat berbahaya yang merusak sel, tapi juga mencegah tumbuhnya bibit penyakit kanker dalam tubuh, memperlambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker dalam tubuh, dan lain-lain.
Walaupun studi yang terdahulu menunjukkan bahwa hampir semua buah-buahan dan sayuranmengandung campuran anti-kanker yang sangat ampuh, para peneliti gagal menemukan apakah jenis antioksidan tanaman yang menghancurkan sel tumor itu dan bagaimana cara kerja mereka.
Flavonoid punya sejumlah kegunaan. Pertama, terhadap tumbuhan, yaitu sebagai pengatur tumbuhan, pengatur fotosintesis, kerja antimiroba dan antivirus. Kedua, terhadap manusia, yaitu sebagai antibiotik terhadap penyakit kanker dan ginjal, menghambat perdarahan. Ketiga, terhadap serangga, yaitu sebagai daya tarik serangga untuk melakukan penyerbukan. Keempat, kegunaan lainnya adalah sebagai bahan aktif dalam pembuatan insektisida nabati dari kulit jeruk manis (Arda Dinata).
Pemberian atom hidrogen ini akan menyebabkan radikal bebas menjadi stabil dan berhenti melakukan gerakan ekstrim, sehingga tak merusak lipida, protein, dan DNA (materi genetik) yang menjadi target kerusakan seluler. Hal senada dikatakan oleh Kandaswami dan Middleton (1997), bahwa flavonoid dapat bertindak sebagai quencer oksigen singlet dan sebagai chelator logam.
2.2.3 Steroid
Steroid adalah suatu kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar siklopentanaperhidrofenantrena, mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa – senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu. Steroid meliputi empat golongan, yaitu kolesterol, hormon, adrenokortikoid, hormon seksual, dan asam empedu.
Kolesterol ditemukan dalam semua organisme dan merupakan bahan awal untuk pembentukan asam empedu, hormon steroid, dan vitamin D. Walaupun kolesterol esensial bagi mahluk hidup, tapi berimplikasi terhadap pembentukan ‘plek’ pada dinding pembuluh nadi (suatu proese yang disebut arteosclerosis, atau pengerasan pembuluh), bahkan dapat mengakibatkan penyumbatan. Gejala ini penting terutama dalam pembuluh yang memasok darah ke jantung. Penyumbatan pada pembuluh ini menimbulkan kerusakan jantung, yang pada gilirannya dapat menimbulkan kematian akibat serangan jantung.
Steroid “hewan” yang khas, kolesterol, terdapat pada lipid permukaan dan organel tumbuhan, tetapi seringkali tidak ditemukan karena senyawa ini terdapat sebagai ester dan glikosida yang tidak larut dalam pelarut yang biasa dipakai untuk sterol bebas.
Beberapa senyawa ini, jika memang terdapat dalam tumbuhan, mungkin berperan sebagai pelindung, tetapi contoh yang baik untuk fungsi seperti itu hanya diberikan oleh empat golongan steroid yang aneh.
2.2.4 Terpenoid
Terpenoid merupakan senyawa yang tersusun oleh kerangka karbon, terdiri dari dua atau lebih unit isopren. Terpenoid merupakan kelompok besar senyawa sekunder yang meliputi minyak esensial, triterpenoid nonvolatil, sterol, dan pigmen karotinoid. Dalam sel tumbuhan, terpenoid ditemukan dalam sitoplasma atau pada kelenjar khusus.
Senyawa terpenoid adalah senyawa hidrokarbon isometric yang juga terdapat pada lemak/minyak esensial (essential oils), yaitu sejenis lemak yang sangat penting bagi tubuh. Zat-zat terpenoid membantu tubuh dalam proses sintesa organic dan pemulihan sel-sel tubuh. Harum atau bau dari tanaman disebabkan oleh fraksi minyak esensial. Minyak tersebut merupakan metabolit sekunder yang kaya akan senyawa dengan struktur isopren.
Petua Isoprena menyatakan bahawa sesuatu sebatian merupakan satu terpenoid jika boleh dibahagikan kepada 5 unit atom karbon (Wallach, 1887) yang digabung melalui sambungan kepala ke ekor (Ingold, 1925) karbon 1 adalah kepala bagi unit isoprena manakala karbon 4 adalah ekor. Boleh didapati dalam semua pengkelasan benda hidup merupakan komponen utama minyak pati, digunakan secara meluas kerana kualiti aromanya (herba tradisional dalam industri tumbuhan). Dalam penyelidikan sebagai bahan antibakteria, antineoplastik dan kegunaan dalam bidang farmaseutikal lain Menjadikan bau wangi kepada pokok kayu putih, perasa kepada kayu manis, cengkih, halia dan warna kepada bunga kuning.Terpenoid seperti citral, menthol, camphor dan cannabinoids boleh didapati dalam pokok ganja steroid dan sterol dalam haiwan dihasilkan secara biologi daripada pemula terpenoid (terpenoid precursor)
2.2.5 Saponin
Saponin mula – mula diberi nama demikian karena sifatnya yang menyerupai sabun ( bahasa latin sapo berarti sabun ). Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan, dan tumbuhan mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus – ratus tahun.
Pada beberapa tahun terakhir ini saponin tertentu menjadi penting karena dapat diperoleh dari beberapa tumbuhan dengan hasil yang baik dan digunakan sebagai bahan baku untuk sintesis hormon steroid yang digunakan dalam bidang kesehatan.
Sifat – sifat Saponin :
1.Berasa pahit. 2.Berbusa dalam air. 3.Mempunyai sifat detergen yang baik. 4.Beracun bagi binatang berdarah dingin. 5.Mempunyai sifat anti inflamatori 6.Mempunyai aplikasi yang baik dalam preparasi film fotografi.
Berdasarkan sifat-sifat tersebut, senyawa saponin mempunyai kegunaan yang sangat luas, antara lain:
1.Pembasmi hama udang. 2.Sebagai detergen pada industri tekstil. 3.Pembentuk busa pada alat pemadam kebakaran. 4 Pembentuk busa pada sampo. 5.Dalam industri farmasi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Waktu Pelaksanaan
Praktek ini dilaksanakan pada hari jumat, 23 Desember 2007 di Laboratorium Kimia FMIPA UNP.
3.2Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan adalah daun kapas (Gossypium arboreum L )
3.3Alat dan Bahan
Lumpang; Pisau/gunting; Plat tetes; Pipet tetes Corong pemanas; Pasir halus bersih; Tabung reaksi; Kapas
Simplisia tumbuhan(daun kapas); Amoniak – kloroform 0,05 N (1 ml amoniak dalam 250 mL kloroform); H2SO4 2N; Pereaksi mayer; Pereaksi Wagner; Pereaksi Dragendorf; Metanol; Asam sulfat pekat; Anhidrida asetat; Asam klorida pekat; Serbuk Magnesium.
3.4Prosedur Kerja
A.Identifikasi Alkaloid : Metoda Culvenor – Fitzgerald
4 gr sampel segar Dirajang halus dan digerus
Di dalam lumpang dengan bantuan pasir
Ditambah kloroform dan digerus
Membentuk Pasta
Ditambah 10 ml larutan amonia – kloroform 0,05 N dan disaring
Campuran dalam tabung reaksi
Ditambah 5 mL larutan H2SO4 2N dan didiamkan
Terbentuk 2 lapisan
Diambil
lapisan asam sulfat
Dimasukkan
Tabung reaksi
Diuji
filtrat
Pereaksi Mayer Pereaksi Dragendorf
Pereaksi Wagner
Tes positif Tes positif Tes positif
endapan putih endapan coklat endapan orange
. Identifikasi Flavonoid : Shinoda test / sianidin test
0,5 gram sampel halus
Diekstrak dg 5 mL metanol
Dipanaskan selama 5 menit
Ditambah 5 tetes HCl pekat dan sedikit serbuk Mg
Campuran ekstrak
Tes positif
Warna berubah menjadi merah / pink / kuning
C. Identifikasi steroid/terpenoid : Metoda Lieberman – Burchard
3 tetes lapisan kloroform pada alkaloid
Diteteskan
Pada plat tetes
Ditambah 5 tetes anhidrat asetat dibiarkan kering
filtrat kering
Ditambah 3 tetes H2SO4 pekat
Tes positif
Warna merah / jingga / ungu Warna Biru
terpenoid steroid
D. Identifikasi Saponin : Uji Busa
Sampel kering
Dirajang halus
Dimasukkan dalam tabung reaksi
Ditambah
Air suling
Dididihkan selama 2 – 3 menit dan dinginkan
Campuran dalam tabung reaksi
Dikocok kuat - kuat
Tes positif
Adanya
Busa stabil selama 5 menit
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
UJI PEREAKSI HASIL
Alkaloid Culvenor – Fitzgerald
Mayer
( - ) larutan bening
Wagner ( - ) larutan berwarna hijau
Dragendorf ( - ) larutan berwarna orange
Flavonoid Shinoda test/sianidin test
Metanol, HCl pekat dan serbuk magnesium
( - ) larutan berwarna hijau
Steroid /
Terpenoid Lieberman – Burchard
Kloroform, anhidrida asetat dan H2SO4 pekat ( - ) terpenoid larutan berwarna biru
( + ) steroid menunjukkan larutan berwarna biru
Saponin Uji Busa
Air suling ( - ) busa menghilang setelah 5 menit didiamkan.
4.2 Pembahasan
Pada percobaan yang telah dilakukan dalam mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid dan saponin pada suatu sampel yakni daun kapas.
Pengidentifikasian tersebut dilakukan dengan beberapa metoda, diantaranya sebagai berikut :
a. Identifikasi Alkaloid
Pengujian alkaloid dengan menggunakan metoda Culvenor – Fitzgerald ini. Lapisan asam sulfat yang merupakan filtrat sesuai dengan prosedur dengan cara menggerus sampel sebanyak 4 gram dalam lumpang dan ditambahkan larutan amonia – kloroform 0,05 N serta H2SO4 2N, lalu diuji dengan menggunakan beberapa pereaksi di antaranya adalah :
Pereaksi Mayer
Filtrat yang diuji dengan pereaksi Mayer, terlihat filtrat tetap larutan berwarna bening. Jadi, tes dengan reaksi ini merupakan tes yang negatif, karena tes positif terdapatnya endapan putih atau keruh.
Pereaksi Wagner
Filtrat juga diuji dengan pereaksi Wagner, terlihat filtrat berubah jadi larutan berwarna hijau. Jadi, tes dengan reaksi ini juga merupakan tes yang negatif.
Pereaksi Dragendorf.
Filtrat juga diuji dengan pereaksi Dragendrof, terlihat filtrat berubah jadi larutan berwarna orange. Jadi, tes dengan reaksi ini juga tesnya yang negatif, padahal tes yang menunjukkan tes positif jika terbentuk endapan orange.
Dari ketiga pereaksi yang diuji pada filtrat ini, didapat hasil yang menunjukkan tes yang negatif padahal menurut literatur, filtrat yang diuji mengandung senyawa alkaloid atau menunjukkan tes yang positif adanya alkaloid. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang ada, kemungkinan telah terjadi beberapa kesalahan baik dari pengamatan, prosedur ataupun alat dan bahan yang digunakan.
b. Identifikasi Flavonoid
Pengujian dengan mengidentifikasi flavonoid dengan menggunakan metoda Shinoda test/sianidin test. Pada pengujian ini, sampel dirajang halus dan diekstrak dengan metanol lalu dipanaskan ± 5 menit. Setelah dipanaskan sampel ditambahkan beberapa tetes HCl pekat dan sedikit serbuk magnesium. Hasilnya membentuk larutan yang berwarna hijau sehingga menunjukkan hasil tes yang negatif dikarenakan hasil yang positif terlihat warna larutannya yang berwarna merah / pink atau kuning. Hal ini juga berbeda dengan literatur yang ada bahwa sebenarnya hasil yang ditunjukkan positif mengandung senyawa flavonoid. Kemungkinan telah terjadi kesalahan pada pengamatannya.
c. Identifikasi Steroid/Terpenoid
Metoda yang digunakan adalah metoda Lieberman – Burchard. Pada pengujian ini, lapisan kloroform hasil dari filtrat pada identifikasi alkaloid ditempatkan pada plat tetes dan ditambahkan 5 tetes anhidrida asetat dan dibiarkan mengering. Setelah mengering ditambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Hasilnya menunjukkan tes yang positif untuk steroid, sedangkan tes negatif untuk terpenoid pada daun kapas. Hal ini juga tidak sesuai dengan literatur yang ada bahwa filtrat daun kapas menunjukkan hasil tes yang negatif baik itu pada steroid maupun pada terpenoid. Kemungkinan hal ini terjadi ketika pengambilan filtrat di bagian kloroform masih mengandung lapisan asam sulfat atau kemungkinan lainnya. Padahal pada terpenoid sesuai dengan literatur yang ada karena tidak mengandung terpenoid.
d. Identifikasi Saponin
Identifikasi ini menggunakan metoda uji busa. Dalam pengidentifikasi ini, digunakan daun kapas kering yang dirajang halus, lalu ditambahkan air suling secukupnya dan dipanaskan selama 2 – 3 menit. Setelah dingin, sampel tersebut dikocok kuat – kuat. Pada awalnya, setelah dilakukan pengocokan terbentuk busa. Namun setelah kurang dari 5 menit, busa tersebut hilang dan tidak ada lagi pada sampel. Ini menunjukkan bahwa tes yang dilakukan negatif, sehingga pada tes ini juga ada mengandung saponin. Berbeda dengan literatur yang mana sampel daun kapas mengandung saponin.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengidentifikasian pada percobaan dan hasilnya dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya sebagai berikut :
a. Pada daun kapas ( Gossypium arboreum L. ) tidak mengandung senyawa alkaloid yang dikarenakan tesnya menunjukkan negatif pada pereaksi mayer, wagner dan dragendrof.
b. Daun kapas ( Gossypium arboreum L. ) juga tidak mengandung flavonoid yang berbeda dengan literatur yang mengatakan adanya flavonoid.
c. Daun kapas ( Gossypium arboreum L. ) mengandung steroid yang juga berbeda dengan literartur yang ada, dengan tidak adanya steroid pada daun kapas.
d. Metabolit sekunder yang terpenoid tidak terkandung pada daun kapas ( Gossypium arboreum L. ).
e. Saponin juga tidak ada terkandung pada daun kapas ( Gossypium arboreum L. ).
f. Berbedanya senyawa yang dikandung daun kapas menurut literatur dengan hasil percobaan, kemungkinan telah terjadi berbagai kesalahan baik itu bahan, alat, prosedur maupun pengamatan.
5.2 Saran
Untuk lebih mengetahui dan mengenal lagi mengenai daun kapas ini, penulis menyarankan sebagai berikut :
a. Ketika melakukan percobaan, sebaiknya sampel yang akan diuji harus digerus dengan halus / dirajang dengan halus agar kandungan kimia yang dikandung pada sampel dapat keluar.
b. Dalam penggerusan sampel digunakan alat yang lebih akurat agar didapat sampel yang sangat halus.
c. Sebaiknya sampel yang digunakan daun yang berumur menengah atau dengan kata lain daunnya tidak terlalu muda maupun juga tidak terlalu tua, kemungkinan hal ini berpengaruh.
d. Dalam mengidentifikasi sampel tidak difokuskan pada 4 metoda saja dan sebaiknya lebih dari 4 metoda untuk mengidentifikasi sampel.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Alkaloid. Situs Web Wikipedia.
Achmad S. A. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta : Universita terbuka.
Amrun Hidayat, M. Alkaloid Turunan Triptofan. Makalah Ilmiah. In Internet.
Anwar, chairil. 1996. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Yogyakarta.
Bernays, E.A. & R.F. Chapman. 1994. Plant selection bt phytophagous insects. Chapman & Hall. Inc. New York.
Departemen Kesehatan RI. 1985. Tanaman Obat Indonesia Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Fessenden, R dan Fessenden, J. 1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Alih bahasa oleh Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta : Erlangga.
Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.
Tim Kimia Organik. Penuntun Praktikum Kimia Organik 2. Padang : UNP.
Trevon Robinson. 1991. The Organic Constituents of Higher Plants, Alih bahasa : Dr Kosasih Padmawinata. Bandung : ITB.
Wardiyono. 2007. Detil Data Gossypium. In Internet.
Senin, 20 Oktober 2008
Analisa kandungan dan khasiat Aloe vera

MARLENI SIREVIA 61678/2004
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
A.Latar Belakang
Berbagai macam tumbuhan di dunia, sifat umum senyawa yang dijumpai, zat yang terkandung didalam tumbuhan tersebut sangat banyak dan mempunyai manfaat yang berbeda-beda.
Penggunaan tanaman sebagai bahan obat sangat semarak dugunakan, oleh karena itu, dalam hal itu maka sangat diharapkan penggunaan tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai mana harusnya.
Suatu cara yang dilakukan untuk mengetahui kandungan yang ada pada tumbuhan ini adalah dengan melakukan penelitian tentang senyawa organik yang terkandung dalam lidah buaya sehingga lidah buaya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan.
B.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa organik yang ada pada tanaman lidah buaya.
C.Batasan Masalah
Dalam makalah ini pembahasan dibatasi pada kandungan senyawa organik pada tanaman lidah buaya.
D.Manfaat Penulisan
Manfaat makalah ini adalah dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang kandungan senyawa organik yang ada pada tanaman lidah buaya dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan.
TINJAUAN PUSTAKA
A.Botani Tumbuhan
Lidah buaya nama botaninya adalah Aloe vera, dengan famili Liliaceae kata orang tak kenal maka tidak cinta. Jika tidak kenal maka tidak ada gunanya. Aloe vera di tanam sebagai tanaman hias di rumah atau taman. Tumbuh di tempat yang berhawa panas.
Ciri-ciri tanaman Aloe vera :
1.Batang
Pendek, batang tidak tertutup oleh daun-daun yang rapat dan sebagian terbenam dalam tanah, herba ini mempunyai batang seperti pokok ubi keladi dengan ketinggian sampai 15 cm dan berdiameter 1 cm – 2 cm. Pada batang akan muncul anak/ tuntas. Batang Aloe vera bisa disetek untuk perbanyakan tanaman dari sisa tunggul yang sudah di pangkaspun akan muncul tunas.
2.Daun
Daun tanaman Aloe vera berwarna hijau, berkelompok-lompok kelabu, berbentuk pita dengan helaian yang memanjang berduri lembut di tepi daun, bersifat sukelen (banyak mengandung air) dan banyak mengandung lendir (gel) sebagai bahan obat sehingga daunnya tebal. Daun mencapai berat 0,5 – 1 kg, daun melingkar rapat disekeliling batang.
3.Bunga
Bunga aloe vera berwarna kuning atau kemerahan keluar dari ketiak daun, bunga panjangnya mencapai 1 meter.
4.Akar
Akar aloe vera berupa akar serabut yang pendek dan berada dipermukaan tanah, panjang 50 – 100 cm. Tanaman ini tumbuh pada tanah yang subur dan gembur.
Aloe vera mengandung beberapa jenis vitamin, zat galian, enzim dan antibiotik yang bermanfaat dalam bidang kesehatan antara :
-Mengobah sakit lemah buah pinggang
-Sakit perut/ gastrik -Tonik -Herba untuk wanita memperbaiki peranakan -Mengandung serat dan melambatkan rasa lapar (untuk diet)-Melicinkan kulit -Lendir kuning yang dikeringkan untuk pelawas -Obat kulit terkena air panas -Untuk Agar vera (bidang industri)
B.Metabolit Sekunder
Dewasa ini yang dimaksud senyawa organik bahan alam adalah terbatas pada senyawa-senyawa yang dikenal sebagai metabolit sekunder. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa-senyawa hasil metabolisme sekunder, yang tidak terdapat secara merata dalam makhluk hidup, dan ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit. Umumnya terdapat pada semua organ tumbuhan (terutama tumbuhan tinggi). Pada akar, kulit, batang, daun, bunga, buah, biji dan sedikit pada hewan.
Penggunaan tumbuhan sebagai obat, berkait dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tanpa adanya suatu senyawa bioktif dalam tumbuhan, secara umum tumbuhan itu tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponin, dll.
Alkaloid termasuk senyawa organik bahan alam yang terbesar jumlahnya, baik dari segi jumlah senyawa maupun sebarannya dalam dunia tumbuhan. Alkohol menurut Winterstein dan trier didefinisikan sebagai senyawa yang bersifat basa, mengandung atom nitrogen berasal dari tumbuhan dan hewan. Harborne dan Turne (1984) mengungkapkan bahwa tidak satupun definisi alkoloid yang memuaskan, tetapai umumnya, alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang bersifat basa, yang mengandung satu atau lebih nitrogen biasanya dalam cincin heterosiklik, dan bersifat aktif biologis menonjol.
Struktur alkaloid beraneka ragam dari yang sederhana sampai rumit dari efek biologisnya yang mengegarkan tubuh sampai toksik. Satu contoh yang sederhana, tetapai yang efeknya daalinya tridak sederhana adalah nikotina. Nikotoin dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, kanker mulut, tekanan darah tinggi dan gangguan terhadap kehamilan dan janin.
Flavonoid adalah suatu kelompoj senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam. Senyawa-senyawa ini bertanggung jawab terhadap zat warna merah, unggu, biru, dan sebagaian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “flavon” yakni nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan juga lazim ditemukan, yang terdapat terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula.
Sebagian besar flavonoid yang pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida dan dalam bentuk campuran, jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda klas. Misalnya antosianin dalam mahkota bunga yang berwarna merah, hampir selalu disertai oleh flavon atau flavonol yang tak berwarna. Dewasa ini diperkirakan telah berhasil diisolasi sekitar 3.000 senyawa flavonoid.
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi : 1) Sebagai pigmen warna, 2) Fungsi fislologi dan patologi, 3) Aktivitas farmakologi, dan, 4) Flavonoid dalam makanan. Aktivitas farmakologi dianggap berasal dari rutin (glikosa flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, emnurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah, dalam Gabor, et al menyatakan bahwa flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam-macam bioktivitas seperti antiinflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dan lain-lain.
Senyawa terpen pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5 : 8 dengan rumus empiris C5H8 (unit isoprena), yang bergabung secara head to tall (kepala-ekor). Oleh sebab itu senyawa terpen lazim disebut isoprenoid Terpenoid sama halnya dengan senyawa terpen tetapi mengandung gugus fungsi lain seperti gugus hidroksil, aldehid dan ketin. Dewasa ini baik terpen maupun terpenold dikelompokkan sebagai senyawa terpenold (isoprenois)
Contoh :
Berdasarkan jumlah unit isoprena yang dikandungnya, senyawa terpenoid dibagi atas : 1) Monoterpen (dua unit isoprena), 2) Seskiterpen (tiga unit isoprena), 3) Diterpena (empat unit isoprena), 4) Triterpena (enam unit isoprena), 5) Tetraterpena (delapan unit isoprena), dan 6) politerpena (banyak unit isoprena). Monotepen dan seskiler adalah komponen utama minyak esensial (minyak atsiri) yang dapat diperoleh dengan diperoleh dengan penyulingan. Vitamin A adalah suatu diterpenold, skualen tergolong triterpenoid yang dijumpai dalam mu=inyak hati ikan, karoten karoten pigmen dan kuning tergolong tetraterpen, lateks (karet alam) adalah politerpen.
Steroid adalah suatu kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar siklopentanaperhidrofenantrena, mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa-senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu.
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu sterroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Hormon-homon seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung telur adalah suatu steroid. Dan hormon kehamilan progestin.
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon). Saponin ini terdiri dari dua kelompok : saponin triteroenoid dan saponin sterroid. Saponin ini terdiri dari dua kelompok: sapoin triterpenoid dan saponin steroid. Saponin banyak digunakan dalam kehidupan manusia, salah satunya terdapat dapat lerak yang dapat digunakan untuk bahan pencuci kain (batik) dan sebagai shampoo. Saponin dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metoda ekstraksi.
BAB III
METOLOGI PENELITIAN
A.Waktu: 23 November 2007
B.Sampel: Daun Lidah Buaya
C.Alat-alat dan Bahan
Lumpang, pisau/ gunting, plat tetes, tabung reaksi, pipet tetes, corong, pemanas, pasir halus bersih, kapas.
Bahan-bahan
Amoniak-kloroform 0,05N (1 mL amoniak dalam 250 ML kloroform), H2SO4 2 N, pereaksi Mayer pereaksi Wagner dan Dragendorf, metanol, asam sulfat pekat, anhidrida asetat, asam klorida pekat, serbuk Magnesium
D.Prosedur
Disarankan untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa metabolit sekunder terhadap tumbuhan obat.
1.Identifikasi Alkohol : Metoda Culvenor-Fitzgeraid
-Kira-kira 4 gr sampel segar dirajang halus dan digerus dalam lumpang dengan bantuan pasir, lalu ditambahkan kloroform sedikit, digerus lagi sampai membentuk pasta.
-Tambahkan 10 mL larutan amoniak-kloroform 0,05 N dan digerus lagi. Sering campuran kedalam sebuah tabung reaksi kering.
-Tambahkan 5 mL larutan H2SO4 2 N dan kocok kuat. Diamlan larutan sampai terbentuk dua lapisan
-Dengan menggunakan pipet yang telah diberi kapas pada ujungnya untuk menyaring, ambil lapisan asam sulfat dan masukkan kedalam tabung reaksi kecil (Lap. Kloroform disimpan untuk pengujian terpenoid).
-Filtrat di uji dengan pereaksi Mayer, Wagner dan Dragendorf. Terbentuknya endapan putih atau keruh dengan pereaksi Mayer, endapan coklat dengan peraksi Wagner atau endapan orange dengan pereaksi Dragendorf menunjukkan sampel mengandung alkaloid.
2. Identifikasi Flavoid : Shinoda test/sianidin test
Kira-kira 0,5 gram sampel yang telah dirajang halus, diekstrak dengan 5 mL metanol dan dipanaskan selama 5 menit dalam tabung reaksi. Ekstraknya ditambahkan beberapa tetes asam klorida pekat dan sedikit serbuk magneslum..
Bila terjadi perubahan warna menjadi merah/pink atau kuning menunjukkan sampel mengandung flavoid.
3. Identifikasi steroid/ terpenolf : Metode Lieberman-Burchard.
Beberapa tetes lapisan kloroform pada uji alkaloid, ditempatkan pada plat tetes. Tambahkan 5 tetes anhidrida asetat dan biarkan mengering. Kemudian tambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Timbulnya warna merah.
HASIL & PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel Hasil Penelitian
No. Uji Pereaksi Hasil
4.Alkoloid
Flavanoid
Steroid/ terpenoid
Saponin - Mayer
-Wagner
-Dragendorf
-HCl p . a dan serbuk Mg
-H2SO4 p . a
-Aquadest Negatif
Negatif
Negatif
Warna kuning
Negatif
Ada busa
B.Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan dengan sampel daun lidah buaya untuk identifikasi alkaloid daun lidah buaya yang dirajang halus, ditambah kloroform dan disaring, diperoleh filtrat ditambah H2SO4 2 N. Dikocok kemudian pisahkan lapisan H2SO4 nya lalu dibagi atas tiga bagian masing-masing ditambah pereaksi mayer. Wagner dan dragendorf. Hasil yang diperoleh tidak ada terbentuk endapan. Berarti lidah buaya tidak mengandung alkaloid.
Pada identifikasi flavonoid, daun lidah buaya yang dirajang halus diekstrak dengan metanol dan dipanaskan, kemudian fitrat ditambah HCl p.a dan serbuk Mg, maka diperoleh hasilnya terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning berarti daun lidah buaya mengandung flavonoid.
Untuk identifikasi Saponin/ uji busa, dan lidah buaya yang dirajang halus ditambah aquadest, lalu dipanaskan, dan didinginkan baru dikocok, diamkan ± 5 menit teryata terbentuk busa, berarti daun lidah buaya mengandung Saponin
BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.Daun lidah buaya tidak mengandung alkoloid dan terpenoid/ steroid.
2.Daun lidah buaya mengan flavonoid dan Saponin
3.Daun lidah buaya merupakan metabolit sekunder dan dapat dimanfaatkan untuk obat.
B.Saran
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis menyarankan supaya makalah ini lebih disempurnakan dengan menjelaskan banyak hal yang berkaitan dengan senyawa organik bahan alam, dan manfaatnya dalam kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden 1990. Kimia Organik, Terjemahan Hadyana Pudjaatmaja Jilid 1. Jkarta : Erlangga.
Fessenden & Fessenden 1990. Kimia Organik, Terjemahan Hadyana Pudjaatmaja Jilid 2. Jkarta : Erlangga.
Trevor Robinson. 1996. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Bandung ITB
http : PKUKM. Web. UKM. My/ tugasan/S2-99/a 68 681. htm.
http ://www. Toplirik. Com/baca artikel/220/Lidah Buaya%20Buayahtml,2006; semarang. Trims pak Mizi
Pegagan
Pegagan
HENNY DWI JAYANTI 2005/66964
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MTEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2007
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Disekitar kita tumbuh berbagai tumbuhan. Ada tumbuhan yang berbunga, ada pula yang tidak. Ada yang terhampar di tanah seperti beludu, ada pula yang menempel di pohon seperti tanduk rusa. Ada yang batangnya dapat tumbuh membesar, adapula yang batangnya tidak dapat tumbuh membesar. Diantara tumbuhan ini adalah pegagan.
Pegagan (centella asiatica) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan,. Pematang sawah ataupun di ladang yang agak basa. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, India, Tiongkok, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan antanan.
Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merembat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek).sedangkan geragan sering banyak dijumpai di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.
Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haermostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensis, insektisida, antialergi dan stimulun. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid).
Dengan demikian pegagan merupakan tumbuhan yang sangat bermanfaat untuk kehidupan. Disamping itu di pedesaan ada sebagian masyarakat mengkomsumsi pegagan sebagai sayuran atau lalapan.
Bertitik tolak dari ini maka penulis tertarik dan ingin mengetahui kandungan yang terdapat dalam pegagan. Penulis memberi judul paper ini adalah identifikasi senyawa organik bahan alam pada tumbuhan pegagan.
B. PERUMUSAN MASALAH
Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka yang yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah apa saja kandungan biologi aktif yang terdapat pada tumbuhan pegagan (Cantella asation) dan apa saja kasiat dan manfaatnya bagi kehidupan.
C.BATASAN MASALAH
Untuk mengarahkan penelitian, maka penelitian ini dibatasi pada hal berikut :
a.Botani tumbuhan pegagan
b.Metabolik sekunder
D.TUJUAN PENULISAN
Adapuan tujuan dari penelitian ini adalah :
1.Untuk menentukan senyawa-senyawa kimia yang terkandung di dalam tumbuhan pegagan
2.Untuk mengetahui manfaat dan kasiat dari tumbuhan pegagan
3.Untuk memenuhi tugas praktikum kimia organi 2
E.MANFAAT PENULISAN
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1.Memberikan informasi tentang kandungan kimia yang terdapat pada tumbuhan pegagan
2.Memberikan informasi tentang kasiat dari tumbuhan pegagan
3.Sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut tentang tumbuhan pegagan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.BOTANI TUMBUHAN
Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyuai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpai di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.
Tema, menahun, tidak berbatang, mempunyai rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap, panjang 10-80 cm, akar keluar dari setiap buku-buku, banyak percabangan yang membentuk tumbuhan baru, daun tunggal, bertangkai panjang, tersusun dalam roset akar yang terdiri dari 2-10 helai daun. Halaian daun berbentuk ginjal, tepi bergerigi atau beringgit, kadang agak berambut, diameter 1-07 cm. Bunga tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bunga bersama-sama keluar dari ketiak daun, berwarna merah muda atau putih. Buah kecil bergantung, berbentuk lonjong, pipih, panjang 2-2,5 mm, baunya wangi dan rasanya pahit. Daunnya dapat dimakan sebagai lalap untuk penguat lambung. Pegagan dapat diperbanyak dengan pemisahan stolon dan biji.
Klasifiasi ilmiah
Kerajaan
Divisi
Kelas
Ordo
Familia
Genus
Spesies :Plantae
Spermatophyta
Dicotyledone
Umbillales
Umbillferae(Apiaceae)
Centella
C. asiatica dan Hydrocotyle asiatica
Gambar 1
Gambar 2.
Gambar 3
SIFAT DAN MAMFAAT
Tumbuhan hijau menjalar di permukaan tanah. Ia berbentuk ginjal dengan panjang tangkainya berukuran 20 CM. Bunganya kecil, kurang dari 3 mm dan berwarna merah jambu atau kemerahan.
Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurunan panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulun. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid).
Manfaat pegagan lainnya yaitu meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki: mencegah varises dan salah urat; meningkatkan daya ingat, mental stamina tubuh; serta menurunkan gejala dan depresi.
KANDUNGAN
Pegagan mengandung bahan aktif seperti triterpenoid glikosida (terutama asiatikosida, asid asiatik, asid madecassik, madikassosida), flavenoids (kaemferol dan guercetin), volatile oils (vallerin, camphor, ciniole dan sterols tumbuhan seperti campesterol, stigmasterol, sitosterol), pektin, asid amino, alkaloid hydrocotyline, mysitol, asid bramik, asid centelik, asid isobrahmik, asid betulik, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit.
KERACUNAN
Bahagian beracun : daun bahan aktif : asiaticoside, brahmoside, brahminoside, hydrocotylin, asid tanik dan bellarin.
Bahan lain : Thankuniside, asid inadecassik, madecassoside, madecassic acid dan asiatic acid.
Kasau Keracunan
Menyebabkan radang kulit atau dermatitis. Pada dosis yang tinggi tumbuhan ini boleh memberi kesan rangsangan pada otak dan menyebabkan sakit kepala, mengantuk dan koma. Asiaticoside mempunyai kesan karsino genik manakala brahmoside dan brahminoside pula mempunyai kesan sedatif.
B.METABOLIK SEKUNDER
Salah satu ciri organisme adalah tumbuh dan berkembang. Tumbuhan-tumbuhan dari kecil menjadi besar dan berkembang dari satu sel zigot menjadi embrio kemudian menjadi satu individu yang mempnyai akar, daun dan batang.
Dewasa ini yang dimaksud senyawa organik bahan alam adalah terbatas pada senyawa-senyawa yang dikenal sebagai metabolik sekunder. Senyawa metabolik adalah senyawa-senyawa hasil metabolisme sekunder, yang tidak terdapat secara merata dalam makhluk hidup dan ditemukan dalam jumlah yang sedikit. Umumnya terdapat pada semua organ tumbuhan (terutama tumbuhan tinggi), pada akar, kulit batang, daun bunga dan biji dan sedikit pada hewan.
Penggunaan tumbuhan sebagai obat, berkaitan dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tampa adanya suatu senyawa bioaktif dalam tumbuhan secara umum tumbuhan itu tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam tumbuhan biasanya merupakan senyawa metabolik sekunder seperti alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponim dan lain-lain.
1.ALKALOID
Alkaloid termasuk senyawa organik bahan alam yang terbesar jumlahnya, baik segi jumlah senyawa maupun sebarannya dalam dunia tumbuhan. Alkaloid menurut Winsterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa bersifat basa, mengandung atom Nitrogen berasal dari tumbuhan dan hewan,. Harborne dan Turner (1984) mengungkapkan bahwa tidak satupun definisi alkaloid yang memuaskan tetapi umumnya alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang bersifat basa, yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen biasanya dalam cincin heterosiklik, dan bersifat aktif biologis menonjol.
Struktur alkoloid beraneka ragam, dari yang sederhana sampai yang rumit, dari efek biologisnya yang menyegarkan tubuh sampai toxis. Satu contoh yang sederhana, tetapi yang efek falinya tidak sederhana adalah nikotin. Nikotin dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, kanker mulut, tekanan darah tinggi, dan gangguan terhadap kehamilan dan janin.
2.FLAVONOID
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam. Senyawa ini bertanggung jawab zat warna merah, ungu, biru dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua favonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “Flavon” yang nama sejenisnya flavonoid yang terbesar jumlahnya dan juga lazim ditemukan yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula.
Sebagian flavonoid yang tedapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glukosida, dan dalam bentuk campuran jarang sekali dijumpai dalam bentuk senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas. Misalnya antosianin dalam mahkota hingga yang berwarna merah, hampir selalu disertai oleh flavon atau flavonol yang tidak berwarna. Dewasa ini diperkirankan telah berhasil diisolasi sekitar 3.000 senyawa flavonoid.
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi yaitu :
1.Sebagai pigmen warna
2.Fungsi fisiologi dan patalogi
3.Aktivitas farmakologi
4.Flavonoid dalam makanan
Aktivitas farmaklogi dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, menurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah, dan lain-lain.
3.SENYAWA TERPEN
Senyawa terpen, pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5 : 8 dengan rumus empiris C5H8 (unit isoperna), yang bergabung secara heat to tail (kepala ekor). Oleh sebab itu senyawa terpen lazim disebut isoprenoid. Terpen dapat mengandung dua, tiga atau lebih suatu soperma. Molekul-molekulnya dapat berupa rantai terbuka atau siklik. Mereka dapat mengandung ikatan rangkap, gugus hidroksil, gugus karbonil atau gugus fungsional lain. Struktur mirip yang mengandung unsur-unsur lain disamping C dan H disebut terpenoid. Dewasa ini baik terpen maupun terpenoid dikelompokkan sebagai senyawa terpenoid (isoprenois).
Berdasakan jumlah unit isoterpena yang dikandungnya, senyawa terpenoid dibagi atas :
1.Monoterpen (dua unit isoprena)
2.Sekiterpen (tiga unit isoprena)
3.Diterpen (empat unit isoprena)
4.Triterpena (lima unit isoprena)
5.Tetraterpen (delapan unit isoprena)
6.Politerpena (banyak unit isoprena)
Monoterpen dan seski terpen adalah komponen utama minyak esendial (minyak atsiri) yang dapat diperoleh dengan penyulingan. Vitamin A adalah suatu diterpenoid, skualena (terdapat dalam ragi, kecambah gandum, dan minyak hati hiu) tergolong triterpenoid dan lanosterol (suatu komponen lanolin, yang diperoleh dari lemak wol). Kedua senyawa ini merupakan zat antara dalam biosintasis steroid. Karet alam merupakan suatu politerpena.
Biosintesis terpen adalah kondensasi ester secara enzimatik dari porsil-porsil asetil dari asetilkoenzime A. zat antara dalam pembentukan terpen adalah porofosfat (difosfat) dari asam mevalonat dan sepasang isopenteril alkohol.
4.STEROID
Steroid adalah kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar siklo pentana perhidrofenantrena, mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa-senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu.
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Kolesterol merupakan zat antara yang diperlukan dalam biosisntesis hormon steroid, namun merupakan tak keharusan dalam amakanan, karena dapat dikaitkan dengan arterioksklerosis (pengerasan pembuluh darah), suatu keadaan dalam mana kolesterol dan lipid-lipid lain melapisi dinding dalam pembuluh darah. Suatu steroid yang berkaitan dengan kolesterol yaitu, 7-dehidrokolesterol, dijumpai dalam kulit, diubah menjadi vitamin D bila disinari dengan cahaya ultraviolet.
Hormon-hormon seks yang dihasilkan terutama pada testis dan indung telur adalah suatu steroid, hormon jantan disebut androgen dan hormon betina entrogen dan hormon kehamilan progesteron.
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kodensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon). Saponim ini terdiri dari dua kelompok : saponim triterpenoid dan saponin steroid. Saponim banyak digunakan dalam kehidupan manusia, salah satunya banyak terdapat dalam letak yang dapat digunakan untuk bahan pencuci kain (batik) dan sebagai shampo. Saponim dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metoda ekstraksi
BAB III
METODE PENELITIAN
A.Tempat Dan Waktu Penelitian
B.Penelitian ini dilakukan di laboratorium Penelitian Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Padang pada
Sampel yang digunakan adalah gagan (cantella asiatica) tanggal 23 November 2007.
Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan adalah pegagan (centella asiatica )
C.Alat Dan Bahan
Alat-alat: Lumpung, pisau/gunting, plat tetes, tabung reaksi, pipet tetes, corong, pemanas, pasir halus bersih, kapas.
Bahan-bahan: Contoh/simplisia tumbuhan (akar, kulit batang, daun, bunga, buah atau biji), amoniak-klorofon 0,05N (1 ml. Amoniak dalam 250 ml klorofon), H2SO4 2N, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner dan Dragendorf, matenol, asam sulfat pekat, serbuk Magnesiun.
D.Prosedur Kerja
1.Identifikasi alkaloid : metode culvenor-fitzgeraid.
Kira-kira 4 gram sampel segar dirajang halus dan digerus dalam lumpung dengan bantuan pasir halus, lalu ditambahkan kloroform sedikit, digerus lagi sampai membentuk pasta. Tambahkan 10 ml larutan anmonia-kloroform 0,05 N dan gerus lagi. Saring campuran ke dalam sebuah tabung reaksi kering. Tambahkan 5 ml larutan H2SO4 2 N, dan kocok kuat. Diamkan larutan sampai terbentuk dua lapisan.
Dengan menggunakan pipet yang telah diberi kapas pada ujungnya untuk menyaring, ambil lapisan asam sulfat dan masukkan ke dalam tabung reaksi kecil (lapisan klorofon disimpan untuk pengujian terperoid). Filtrat diuji dengan pereaksi mayer, Wagner, endapan coklat dengan pereksi Wagner atau endapan orange dengan pereaksi dragendorfl. Ono menunjukkan sampel mengandung alkaloid.
2.Identifikasi flavonoid ; shinoda test/sianidin test
Kira-kira 0,5 gram sampel yang telah dirajang halus, diekstrak dengan 5 ml methanol dan dipanaskan selama 5 menit dalam tabung raksi. Ekstarknya ditambahkan beberapa tetes asam klorida pekat dan sedikit serbuk magnesium. Bila terjadi perubahan warna menjadi merah/pink atau kuning menunjukkan sampel mengandung flovonoid.
3.Identifikasi steroid/terpenoid ; Meode lieherman-burchard.
Beberapa tetes lapisan kloroform pada uji alkaloid, ditempatkan pada plat tetes. Tambahkan 5 tetes anhidrida asetat dan biarkan mengering. Kemudian tambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Timbulmya warna merah jingga atau ungu menandakan uji positif terhadap trierpenoid, sedangkan warna biru menunjukkan uji positif terhadap trierpenoid, sedangkan warna biru menunjukkan uji positif untuk steroid.
4.Identifikasi saponin : uji basa
Untuk identifikasi saponin sebaiknya digunakan sampel yang sudah dikeringkan, karena test yang digunakan adalah test pembentukan busa. Bila sampel segar/basah dididihkan dengan ari suling, kemungkinan cairan sel akan membentuk basa bila dikocok. Caranya : sampel kering dirajang halus, dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan air suling, dididihkan selama 2-3 menit. Dinginkan, setelah dingin dikocok kuat-kuat. Ada busa yang stabil selama 5 menit berarti sampel mengandung saponin.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
Uji Pereaksi Hasil
Alkoloid-Mayer
-Wagner
-Dragendrof -Tidak terjadi perubahan
-Terbentuk endapan putih
-Terbentuk endapan cokelat
-Test negatif terhadap alkoloid
Flanovoid Metanol, asam klorida pekat, dan serbuk magnesium. Tidak terjadi perubahan warna (pink/kuning)
Steroid/steperoid Klorofon, anhidrida asetat dan H2SO4 pekat Tidak terjadi perubahan warna (jingga/ungu dan biru)
Saponin Air suling Menimbulkan busa yang stabil selama 3 menit menandakan adanya saponin.
Tabel 1. Data hasil pengamatan
B.Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan, memberikan hasil bahwa :
1.Identifikasi alkolid
Idendifikasi ini menggunakan metode culvenol-fitzgerald, yang mana akan terjadi perubahan warna berdasarkan pereaksi-pereaksinya.
Pada percobaan terhadap tumbuhan pagagan. Tarnyata diperoleh hasil yang negatif terhadap pereaksi Mayer, Pereaksi Wagner, dan pereaksi Dragendorf. Seharusnya terhadap ketiga pereaksi ini memberikan tes yang positif yaitu terbentuk endapan putih, endapan cokelat dan endapan orange.
Berarti hasil yang diperoleh pada percobaan tidak sesuai dengan teori yang penulis dapatkan di Internet dan pada litartur. Jadi pada tes ini terjadi kesalahan yang mungkin disebabkan pada waktu percobaan tidak teliti dan hati-hati.
2.Identifikasi flavonoid.
Identifiakasi flanovoid menggunakan metode shinoda test/sianidin test. Yang mana akan dihasilkan perubahan warna merah/pink atau kuning. Pada pegagan memberikan tes negatif yaitu tidak terjadi perubahan karna. Seharusnya terjadi perbuahan warna. Hasil percobaan ini tidak sesuai dengan literatur yang ada. Hal ini disebabkan karena terjadi kesalahan peneliti pada waktu percobaan. Seperti penambahan perekasi yang berlebihan
3.Identifikasi Steorid /Terpenoid
Identifikasi steoroid/terpenoid menggunakan metoda Lieberman-Burchard, yang mana akan menhasilkan perbahan warna menjadi ungui/jingga menandakan uji positif untuk tripenoid dan warna biru menandakan tidak terjadi perubahan warna. Penelitian ini menunjukkan bahwa pegangan tidak menganduing steroid/terpenoid. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan literatur yaitu pegangan mengandung triterpenoid glikosida. Hal ini disebakan karena kesalahan peneliti sewaktu percobaan, seperti penambahan pereaksi yang berlebihan atau tidak sesuai.
4.Identifikasi saponin.
Identifikasi saponin yaitu dengan uji busa. Uji ini akan menghasilkan busa setelah sampel ditambah air lalu dipanask dan dikocok kuat. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa pegangan mengandung saponin karena pada saat pengocokan menimbulkan busa yang stabil selamat +5 menit. Hasil peneliti ini sesuai dengan literatiur yaitu pegangan mengandung saponin.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan :
1.Tumbuhan pegagan (Cantella asiatica) mengandung alkaloid yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna jika filtrat pegagan di reaksikan dengan reagen Meyer terjadi perubahan warna dari hijau menjadi putih keruh, Warger menjadi coklat dan Dragendorf menjadi agak orange.
2.Tumbuhan pegagan (cantella asiatica) mengandung flavonoid yang diatanddai dnegan perubahan warna sampel dari hijau menjadi terang atau agak warna pink.
3.Tumbuhan pegagan (centella asiatica) mengandung flavonoid yang ditandai dengan pertumbuhan warna sampel dari hijau menjadi terang atau agak warna pink
4.Tumbuhan pegagan (Centella asiatica) tidak menagndung steroid/ terpenoid
5.Pada pecobaan ini terjadi kesalahan-kesalahan pada waktu mengidentifikasi kandungan dalam pegagan.
B.Saran
Peneltiian ini agar leibh banyak mengenal bahan biologi aktif yang terkandung di dalam tumbuhan dengan menggunkan pereaksi kimia maka penulis menyarankan :
1.Lebih banyak lagi identifikasi yang dilakkan pada tumbuhan agar lebih senyawa-senyawa kimia yang ditemukan.
2.Sampel harus dirajang halus kalau bisa digerus agar senyawa-senyawa yang terdapat di dalam sampel keluar dan pada saat penambahan pereaksi kimia harus hati-hati dan teliti agar hasilnya maksimal.
3.Peralatan yang ada dilaboratorium di tambah lebih banyak lagi terutama lumpang.
4.Sebaiknya pereaksi yang digunakan dibuat baru agar tidak terjadi banyak masalah pada waktu mengidentifikasi kandungan zat di dalam tumbuhan.
REFERENSI
Fessenden & fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II. Jakarta : Erlangga.
Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
Tim Kimia Organik. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Padang : FMIPA UNP
http/google.com. 7 Desember 2007. Kadungan Pegagan
http/google.com. 7 Desember 2007. Pegagan.
http/google.com. 7 Desember 2007. Tanaman Obat Indonesia
Koesniobari, Soendoro. 1965. Apotik Hijau. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Air Langga. Trims pak Mizi
HENNY DWI JAYANTI 2005/66964
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MTEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2007
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Disekitar kita tumbuh berbagai tumbuhan. Ada tumbuhan yang berbunga, ada pula yang tidak. Ada yang terhampar di tanah seperti beludu, ada pula yang menempel di pohon seperti tanduk rusa. Ada yang batangnya dapat tumbuh membesar, adapula yang batangnya tidak dapat tumbuh membesar. Diantara tumbuhan ini adalah pegagan.
Pegagan (centella asiatica) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan,. Pematang sawah ataupun di ladang yang agak basa. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, India, Tiongkok, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan antanan.
Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merembat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek).sedangkan geragan sering banyak dijumpai di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.
Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haermostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensis, insektisida, antialergi dan stimulun. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid).
Dengan demikian pegagan merupakan tumbuhan yang sangat bermanfaat untuk kehidupan. Disamping itu di pedesaan ada sebagian masyarakat mengkomsumsi pegagan sebagai sayuran atau lalapan.
Bertitik tolak dari ini maka penulis tertarik dan ingin mengetahui kandungan yang terdapat dalam pegagan. Penulis memberi judul paper ini adalah identifikasi senyawa organik bahan alam pada tumbuhan pegagan.
B. PERUMUSAN MASALAH
Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka yang yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah apa saja kandungan biologi aktif yang terdapat pada tumbuhan pegagan (Cantella asation) dan apa saja kasiat dan manfaatnya bagi kehidupan.
C.BATASAN MASALAH
Untuk mengarahkan penelitian, maka penelitian ini dibatasi pada hal berikut :
a.Botani tumbuhan pegagan
b.Metabolik sekunder
D.TUJUAN PENULISAN
Adapuan tujuan dari penelitian ini adalah :
1.Untuk menentukan senyawa-senyawa kimia yang terkandung di dalam tumbuhan pegagan
2.Untuk mengetahui manfaat dan kasiat dari tumbuhan pegagan
3.Untuk memenuhi tugas praktikum kimia organi 2
E.MANFAAT PENULISAN
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1.Memberikan informasi tentang kandungan kimia yang terdapat pada tumbuhan pegagan
2.Memberikan informasi tentang kasiat dari tumbuhan pegagan
3.Sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut tentang tumbuhan pegagan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.BOTANI TUMBUHAN
Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyuai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpai di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.
Tema, menahun, tidak berbatang, mempunyai rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap, panjang 10-80 cm, akar keluar dari setiap buku-buku, banyak percabangan yang membentuk tumbuhan baru, daun tunggal, bertangkai panjang, tersusun dalam roset akar yang terdiri dari 2-10 helai daun. Halaian daun berbentuk ginjal, tepi bergerigi atau beringgit, kadang agak berambut, diameter 1-07 cm. Bunga tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bunga bersama-sama keluar dari ketiak daun, berwarna merah muda atau putih. Buah kecil bergantung, berbentuk lonjong, pipih, panjang 2-2,5 mm, baunya wangi dan rasanya pahit. Daunnya dapat dimakan sebagai lalap untuk penguat lambung. Pegagan dapat diperbanyak dengan pemisahan stolon dan biji.
Klasifiasi ilmiah
Kerajaan
Divisi
Kelas
Ordo
Familia
Genus
Spesies :Plantae
Spermatophyta
Dicotyledone
Umbillales
Umbillferae(Apiaceae)
Centella
C. asiatica dan Hydrocotyle asiatica
Gambar 1
Gambar 2.
Gambar 3
SIFAT DAN MAMFAAT
Tumbuhan hijau menjalar di permukaan tanah. Ia berbentuk ginjal dengan panjang tangkainya berukuran 20 CM. Bunganya kecil, kurang dari 3 mm dan berwarna merah jambu atau kemerahan.
Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurunan panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulun. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid).
Manfaat pegagan lainnya yaitu meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki: mencegah varises dan salah urat; meningkatkan daya ingat, mental stamina tubuh; serta menurunkan gejala dan depresi.
KANDUNGAN
Pegagan mengandung bahan aktif seperti triterpenoid glikosida (terutama asiatikosida, asid asiatik, asid madecassik, madikassosida), flavenoids (kaemferol dan guercetin), volatile oils (vallerin, camphor, ciniole dan sterols tumbuhan seperti campesterol, stigmasterol, sitosterol), pektin, asid amino, alkaloid hydrocotyline, mysitol, asid bramik, asid centelik, asid isobrahmik, asid betulik, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit.
KERACUNAN
Bahagian beracun : daun bahan aktif : asiaticoside, brahmoside, brahminoside, hydrocotylin, asid tanik dan bellarin.
Bahan lain : Thankuniside, asid inadecassik, madecassoside, madecassic acid dan asiatic acid.
Kasau Keracunan
Menyebabkan radang kulit atau dermatitis. Pada dosis yang tinggi tumbuhan ini boleh memberi kesan rangsangan pada otak dan menyebabkan sakit kepala, mengantuk dan koma. Asiaticoside mempunyai kesan karsino genik manakala brahmoside dan brahminoside pula mempunyai kesan sedatif.
B.METABOLIK SEKUNDER
Salah satu ciri organisme adalah tumbuh dan berkembang. Tumbuhan-tumbuhan dari kecil menjadi besar dan berkembang dari satu sel zigot menjadi embrio kemudian menjadi satu individu yang mempnyai akar, daun dan batang.
Dewasa ini yang dimaksud senyawa organik bahan alam adalah terbatas pada senyawa-senyawa yang dikenal sebagai metabolik sekunder. Senyawa metabolik adalah senyawa-senyawa hasil metabolisme sekunder, yang tidak terdapat secara merata dalam makhluk hidup dan ditemukan dalam jumlah yang sedikit. Umumnya terdapat pada semua organ tumbuhan (terutama tumbuhan tinggi), pada akar, kulit batang, daun bunga dan biji dan sedikit pada hewan.
Penggunaan tumbuhan sebagai obat, berkaitan dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tampa adanya suatu senyawa bioaktif dalam tumbuhan secara umum tumbuhan itu tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam tumbuhan biasanya merupakan senyawa metabolik sekunder seperti alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponim dan lain-lain.
1.ALKALOID
Alkaloid termasuk senyawa organik bahan alam yang terbesar jumlahnya, baik segi jumlah senyawa maupun sebarannya dalam dunia tumbuhan. Alkaloid menurut Winsterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa bersifat basa, mengandung atom Nitrogen berasal dari tumbuhan dan hewan,. Harborne dan Turner (1984) mengungkapkan bahwa tidak satupun definisi alkaloid yang memuaskan tetapi umumnya alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang bersifat basa, yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen biasanya dalam cincin heterosiklik, dan bersifat aktif biologis menonjol.
Struktur alkoloid beraneka ragam, dari yang sederhana sampai yang rumit, dari efek biologisnya yang menyegarkan tubuh sampai toxis. Satu contoh yang sederhana, tetapi yang efek falinya tidak sederhana adalah nikotin. Nikotin dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, kanker mulut, tekanan darah tinggi, dan gangguan terhadap kehamilan dan janin.
2.FLAVONOID
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam. Senyawa ini bertanggung jawab zat warna merah, ungu, biru dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua favonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “Flavon” yang nama sejenisnya flavonoid yang terbesar jumlahnya dan juga lazim ditemukan yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula.
Sebagian flavonoid yang tedapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glukosida, dan dalam bentuk campuran jarang sekali dijumpai dalam bentuk senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas. Misalnya antosianin dalam mahkota hingga yang berwarna merah, hampir selalu disertai oleh flavon atau flavonol yang tidak berwarna. Dewasa ini diperkirankan telah berhasil diisolasi sekitar 3.000 senyawa flavonoid.
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi yaitu :
1.Sebagai pigmen warna
2.Fungsi fisiologi dan patalogi
3.Aktivitas farmakologi
4.Flavonoid dalam makanan
Aktivitas farmaklogi dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, menurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah, dan lain-lain.
3.SENYAWA TERPEN
Senyawa terpen, pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5 : 8 dengan rumus empiris C5H8 (unit isoperna), yang bergabung secara heat to tail (kepala ekor). Oleh sebab itu senyawa terpen lazim disebut isoprenoid. Terpen dapat mengandung dua, tiga atau lebih suatu soperma. Molekul-molekulnya dapat berupa rantai terbuka atau siklik. Mereka dapat mengandung ikatan rangkap, gugus hidroksil, gugus karbonil atau gugus fungsional lain. Struktur mirip yang mengandung unsur-unsur lain disamping C dan H disebut terpenoid. Dewasa ini baik terpen maupun terpenoid dikelompokkan sebagai senyawa terpenoid (isoprenois).
Berdasakan jumlah unit isoterpena yang dikandungnya, senyawa terpenoid dibagi atas :
1.Monoterpen (dua unit isoprena)
2.Sekiterpen (tiga unit isoprena)
3.Diterpen (empat unit isoprena)
4.Triterpena (lima unit isoprena)
5.Tetraterpen (delapan unit isoprena)
6.Politerpena (banyak unit isoprena)
Monoterpen dan seski terpen adalah komponen utama minyak esendial (minyak atsiri) yang dapat diperoleh dengan penyulingan. Vitamin A adalah suatu diterpenoid, skualena (terdapat dalam ragi, kecambah gandum, dan minyak hati hiu) tergolong triterpenoid dan lanosterol (suatu komponen lanolin, yang diperoleh dari lemak wol). Kedua senyawa ini merupakan zat antara dalam biosintasis steroid. Karet alam merupakan suatu politerpena.
Biosintesis terpen adalah kondensasi ester secara enzimatik dari porsil-porsil asetil dari asetilkoenzime A. zat antara dalam pembentukan terpen adalah porofosfat (difosfat) dari asam mevalonat dan sepasang isopenteril alkohol.
4.STEROID
Steroid adalah kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar siklo pentana perhidrofenantrena, mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa-senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu.
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Kolesterol merupakan zat antara yang diperlukan dalam biosisntesis hormon steroid, namun merupakan tak keharusan dalam amakanan, karena dapat dikaitkan dengan arterioksklerosis (pengerasan pembuluh darah), suatu keadaan dalam mana kolesterol dan lipid-lipid lain melapisi dinding dalam pembuluh darah. Suatu steroid yang berkaitan dengan kolesterol yaitu, 7-dehidrokolesterol, dijumpai dalam kulit, diubah menjadi vitamin D bila disinari dengan cahaya ultraviolet.
Hormon-hormon seks yang dihasilkan terutama pada testis dan indung telur adalah suatu steroid, hormon jantan disebut androgen dan hormon betina entrogen dan hormon kehamilan progesteron.
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kodensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon). Saponim ini terdiri dari dua kelompok : saponim triterpenoid dan saponin steroid. Saponim banyak digunakan dalam kehidupan manusia, salah satunya banyak terdapat dalam letak yang dapat digunakan untuk bahan pencuci kain (batik) dan sebagai shampo. Saponim dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metoda ekstraksi
BAB III
METODE PENELITIAN
A.Tempat Dan Waktu Penelitian
B.Penelitian ini dilakukan di laboratorium Penelitian Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Padang pada
Sampel yang digunakan adalah gagan (cantella asiatica) tanggal 23 November 2007.
Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan adalah pegagan (centella asiatica )
C.Alat Dan Bahan
Alat-alat: Lumpung, pisau/gunting, plat tetes, tabung reaksi, pipet tetes, corong, pemanas, pasir halus bersih, kapas.
Bahan-bahan: Contoh/simplisia tumbuhan (akar, kulit batang, daun, bunga, buah atau biji), amoniak-klorofon 0,05N (1 ml. Amoniak dalam 250 ml klorofon), H2SO4 2N, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner dan Dragendorf, matenol, asam sulfat pekat, serbuk Magnesiun.
D.Prosedur Kerja
1.Identifikasi alkaloid : metode culvenor-fitzgeraid.
Kira-kira 4 gram sampel segar dirajang halus dan digerus dalam lumpung dengan bantuan pasir halus, lalu ditambahkan kloroform sedikit, digerus lagi sampai membentuk pasta. Tambahkan 10 ml larutan anmonia-kloroform 0,05 N dan gerus lagi. Saring campuran ke dalam sebuah tabung reaksi kering. Tambahkan 5 ml larutan H2SO4 2 N, dan kocok kuat. Diamkan larutan sampai terbentuk dua lapisan.
Dengan menggunakan pipet yang telah diberi kapas pada ujungnya untuk menyaring, ambil lapisan asam sulfat dan masukkan ke dalam tabung reaksi kecil (lapisan klorofon disimpan untuk pengujian terperoid). Filtrat diuji dengan pereaksi mayer, Wagner, endapan coklat dengan pereksi Wagner atau endapan orange dengan pereaksi dragendorfl. Ono menunjukkan sampel mengandung alkaloid.
2.Identifikasi flavonoid ; shinoda test/sianidin test
Kira-kira 0,5 gram sampel yang telah dirajang halus, diekstrak dengan 5 ml methanol dan dipanaskan selama 5 menit dalam tabung raksi. Ekstarknya ditambahkan beberapa tetes asam klorida pekat dan sedikit serbuk magnesium. Bila terjadi perubahan warna menjadi merah/pink atau kuning menunjukkan sampel mengandung flovonoid.
3.Identifikasi steroid/terpenoid ; Meode lieherman-burchard.
Beberapa tetes lapisan kloroform pada uji alkaloid, ditempatkan pada plat tetes. Tambahkan 5 tetes anhidrida asetat dan biarkan mengering. Kemudian tambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Timbulmya warna merah jingga atau ungu menandakan uji positif terhadap trierpenoid, sedangkan warna biru menunjukkan uji positif terhadap trierpenoid, sedangkan warna biru menunjukkan uji positif untuk steroid.
4.Identifikasi saponin : uji basa
Untuk identifikasi saponin sebaiknya digunakan sampel yang sudah dikeringkan, karena test yang digunakan adalah test pembentukan busa. Bila sampel segar/basah dididihkan dengan ari suling, kemungkinan cairan sel akan membentuk basa bila dikocok. Caranya : sampel kering dirajang halus, dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan air suling, dididihkan selama 2-3 menit. Dinginkan, setelah dingin dikocok kuat-kuat. Ada busa yang stabil selama 5 menit berarti sampel mengandung saponin.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
Uji Pereaksi Hasil
Alkoloid-Mayer
-Wagner
-Dragendrof -Tidak terjadi perubahan
-Terbentuk endapan putih
-Terbentuk endapan cokelat
-Test negatif terhadap alkoloid
Flanovoid Metanol, asam klorida pekat, dan serbuk magnesium. Tidak terjadi perubahan warna (pink/kuning)
Steroid/steperoid Klorofon, anhidrida asetat dan H2SO4 pekat Tidak terjadi perubahan warna (jingga/ungu dan biru)
Saponin Air suling Menimbulkan busa yang stabil selama 3 menit menandakan adanya saponin.
Tabel 1. Data hasil pengamatan
B.Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan, memberikan hasil bahwa :
1.Identifikasi alkolid
Idendifikasi ini menggunakan metode culvenol-fitzgerald, yang mana akan terjadi perubahan warna berdasarkan pereaksi-pereaksinya.
Pada percobaan terhadap tumbuhan pagagan. Tarnyata diperoleh hasil yang negatif terhadap pereaksi Mayer, Pereaksi Wagner, dan pereaksi Dragendorf. Seharusnya terhadap ketiga pereaksi ini memberikan tes yang positif yaitu terbentuk endapan putih, endapan cokelat dan endapan orange.
Berarti hasil yang diperoleh pada percobaan tidak sesuai dengan teori yang penulis dapatkan di Internet dan pada litartur. Jadi pada tes ini terjadi kesalahan yang mungkin disebabkan pada waktu percobaan tidak teliti dan hati-hati.
2.Identifikasi flavonoid.
Identifiakasi flanovoid menggunakan metode shinoda test/sianidin test. Yang mana akan dihasilkan perubahan warna merah/pink atau kuning. Pada pegagan memberikan tes negatif yaitu tidak terjadi perubahan karna. Seharusnya terjadi perbuahan warna. Hasil percobaan ini tidak sesuai dengan literatur yang ada. Hal ini disebabkan karena terjadi kesalahan peneliti pada waktu percobaan. Seperti penambahan perekasi yang berlebihan
3.Identifikasi Steorid /Terpenoid
Identifikasi steoroid/terpenoid menggunakan metoda Lieberman-Burchard, yang mana akan menhasilkan perbahan warna menjadi ungui/jingga menandakan uji positif untuk tripenoid dan warna biru menandakan tidak terjadi perubahan warna. Penelitian ini menunjukkan bahwa pegangan tidak menganduing steroid/terpenoid. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan literatur yaitu pegangan mengandung triterpenoid glikosida. Hal ini disebakan karena kesalahan peneliti sewaktu percobaan, seperti penambahan pereaksi yang berlebihan atau tidak sesuai.
4.Identifikasi saponin.
Identifikasi saponin yaitu dengan uji busa. Uji ini akan menghasilkan busa setelah sampel ditambah air lalu dipanask dan dikocok kuat. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa pegangan mengandung saponin karena pada saat pengocokan menimbulkan busa yang stabil selamat +5 menit. Hasil peneliti ini sesuai dengan literatiur yaitu pegangan mengandung saponin.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan :
1.Tumbuhan pegagan (Cantella asiatica) mengandung alkaloid yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna jika filtrat pegagan di reaksikan dengan reagen Meyer terjadi perubahan warna dari hijau menjadi putih keruh, Warger menjadi coklat dan Dragendorf menjadi agak orange.
2.Tumbuhan pegagan (cantella asiatica) mengandung flavonoid yang diatanddai dnegan perubahan warna sampel dari hijau menjadi terang atau agak warna pink.
3.Tumbuhan pegagan (centella asiatica) mengandung flavonoid yang ditandai dengan pertumbuhan warna sampel dari hijau menjadi terang atau agak warna pink
4.Tumbuhan pegagan (Centella asiatica) tidak menagndung steroid/ terpenoid
5.Pada pecobaan ini terjadi kesalahan-kesalahan pada waktu mengidentifikasi kandungan dalam pegagan.
B.Saran
Peneltiian ini agar leibh banyak mengenal bahan biologi aktif yang terkandung di dalam tumbuhan dengan menggunkan pereaksi kimia maka penulis menyarankan :
1.Lebih banyak lagi identifikasi yang dilakkan pada tumbuhan agar lebih senyawa-senyawa kimia yang ditemukan.
2.Sampel harus dirajang halus kalau bisa digerus agar senyawa-senyawa yang terdapat di dalam sampel keluar dan pada saat penambahan pereaksi kimia harus hati-hati dan teliti agar hasilnya maksimal.
3.Peralatan yang ada dilaboratorium di tambah lebih banyak lagi terutama lumpang.
4.Sebaiknya pereaksi yang digunakan dibuat baru agar tidak terjadi banyak masalah pada waktu mengidentifikasi kandungan zat di dalam tumbuhan.
REFERENSI
Fessenden & fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II. Jakarta : Erlangga.
Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
Tim Kimia Organik. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Padang : FMIPA UNP
http/google.com. 7 Desember 2007. Kadungan Pegagan
http/google.com. 7 Desember 2007. Pegagan.
http/google.com. 7 Desember 2007. Tanaman Obat Indonesia
Koesniobari, Soendoro. 1965. Apotik Hijau. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Air Langga. Trims pak Mizi
Langganan:
Komentar (Atom)
Automatic translation of this blog (Terjemahan Otomatis Blog ini)
Entri Populer
-
Penggunaan Alat Laboratorium Penggunaan Alat Sebelum praktikum pilihlah alat-alat yang dibutuhkan selengkapnya sesuai dengan kapasitas, keg...
-
UPAYA PENINGKATAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN SEKOLAH MELALUI KEGIATAN LOMBA KEBERSIHAN KELAS DI SDN 15 BATANG BARUS KABUPATEN SOLOK Oleh Nama : H...
-
Analisa Zat Berkhasiat Daun Selasih Oleh : DONA YUNILDA FAHMI 66962/2005 PENDIDIKAN KIMIA NR JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU P...
