Senin, 23 Februari 2009

Interpretasi


Sebuah Interpretasi Luas
Oleh. Nasbahry Couto )

Dasar pengetahuan penulis adalah bidang visual arts (seni rupa, desain, dan arsitektur) yang diluaskan ke bidang budaya visual (visual culture). Artikel yang penulis tulis, tentu tidak ingin ke luar dari referensi ini. Jika ada pembaca ingin membawa ke luar konteks ini, mungkin karena pembaca memiliki referensi lain. Jika ada pembaca yang ingin mendalami pemikiran penulis lebih dalam, ada dua buku yang bisa jadi referensi yang penulis tulis tahun 2008. Yaitu Dimensi Teknologi dalam Seni Rupa (DTS) yang memfokuskan kajian ke tradisi teknik Seni Rupa (dan sedikit menyinggung pengolahan seni dg. komputer), dan satunya lagi Budaya Visual Seni Tradisi Minangkabau (BVTM) yang memfokuskan kajian ke arsitektur tradisi. Tulisan di bawah ini, adalah beberapa cuplikan kedua buku itu, yang penulis coba rangkai dengan artikel terdahulu “Sebuah Perenungan Terhadap Kecendrungan Seni dan Budaya”. Dan, mudah-mudahan dapat memperjelas maksud artikel itu.
Tentang budaya visual saya tulis dalam buku BVTM,2008 , sbb.
Pada awal akhir abad ke 20 cara melihat kebudayaan mulai disederhanakan, misalnya dengan membagi kebudayaan masa kini yang sedang berjalan dan kebudayaan masa lalu. (Sedyawati, Edi, 2003). Kebudayaan masa lalu dibagi lagi atas warisan budaya yang dapat dilihat (tangible cultural heritage) dan warisan budaya yang tidak terlihat (intangible cultural heritage). ( BVTM, hal 15-16)

Tentang gaze: ( saya tulis dalam buku BVTM) sbb.…………………….cara melihat manusia. Yaitu bagaimana cara seseorang memandang orang lain. Produk film, animasi atau video umumnya dibuat untuk melihat bagaimana tampilan visual orang-orang, dan tokoh (manusia), manusia yang jadi kucing, jadi robot dsb. Pokoknya manusia. Demikian juga saat melihat seorang tokoh pimpinan, melihat potret, menilai gambar atau lukisan pada dasarnya yang kita pandang adalah visualisasi manusianya berdasarkan persepsi gender. Jika kita menafsirkan orang kurang tepat jika dipakai istilah denotatif atau konotatif. Umumnya interpretasi terhadap benda dan orang tidak pernah sama. Dalam melihat benda-benda, umumnya kita menipiskan perbedaan yang ada. Sehingga kita mencari peluang untuk kesatuan pendapat tentang yang terlihat, misalnya dalam kegiatan ekonomi. (BVTM.2008. hal.4)
Tentang perbedaan persepsi terhadap bahasa visual dan bahasa verbal : ( dalam buku DTS) sbb:
Kata-kata atau bahasa, dapat menerima maksud arti simbolis dan juga bisa terlepas dari arti awalnya dan atau bergeser artinya. Kata hitam (black), misalnya, pada awalnya (di Amerika) di maksudkan sebagai lambang keturunan orang Afro-Amerika. Dalam pengertian selanjutnya ternyata makna black telah bergeser dan tidak lagi dipakai untuk menunjuk orang keturunan Afrika. Di Indonesia tahun 70-an kalau berjoget (bergoyang) disebut “asoy”, generasi sekarang tidak mengenal lagi arti kata itu, kecuali di pasar disebut orang “kantong asoy” sebagai kantong plastik (mungkin karena goyangannya). Jadi sebuah kata adalah sebuah konvensi tentang makna simbolik. Konvensi itu dapat bergeser maknanya menurut waktu. Dengan pemahaman ini, kita mudah mengerti, kenapa pengertian seni berubah dari waktu ke waktu ( DTS. hal. 57)

Tidak ada komentar:

Automatic translation of this blog (Terjemahan Otomatis Blog ini)

Entri Populer

Lingkaran UNP Press